Beberapa hari ini saya harus mondar mandir ke sebuah rumah sakit swasta di kabupaten purworejo ,karena orang tua saya di rawat di sana lumayan sering saya pergi kesana karena kebutuhan obat atau yang lain
rumah sakit itu tergolong bagus dan cekatan serta memiliki kwalitas yang bagus terlihat dari fasilitas laboratorium dan fasilitas yang menunjang kesembuhan pasien ,
tapi sebagus apapun tentu kita tak akan mau tinggal lama lama di sebuah rumah sakit yah masalahnya se enak apapun berarti ketika kita tinggal disana kita jadi orang sakit.
yah tapi memang ketika kita datang kerumah sakit kita jadi bersyukur ketika kita dalam keadaan sehat dan mengetahui mahalnya sebuah kesehatan.
terus menerus selama beberapa hari saya ke rumah sakit baru hari ini saya merasakan hal yang unik ,ketika saya harus membayar parkir kendaraan ,memang rumah sakit ini tidak memiliki fasilitas ruang parkir yang baik dan di kelola oleh rumah sakit ,namun ruang parkirnya di sekeliling jalan dan di sebelah rumah sakit itu ,jadi pengelolaannya masih di kuasai oleh tukang parkir yang bukan milik rumah sakit ( tukang parkir daerah )
nah inilah saya di perlakukan diskriminatif , hari pertama kedua saya datang menggunakan kendaraan tempur lapangan yaitu suzuki katana ,setelah selesai urusan saya di rumah sakit lalu saya bergegas membayar parkir Rp 1000 sebelum melaju pergi .
hari kedua bersama anak anak sepulang survai lokasi dan drop alat kerja saya pergi ke rumah sakit itu juga dan ketika pulang saya juga membayar Rp 1000 lalu bergegas pergi .
nah hari ini karena semua mobil di pake anak anak ke lapangan sementara saya harus ketemu orang dan menjenguk ke Rumah sakit maka saya terpaksa menggunakan sedan saya untuk menemani saya pergi ketemu orang yang kemudian saya lanjutkan menjenguk orang tua ke rumah sakit itu ,
setelah beberapa keperluan di rumah sakit itu terpenuhi saya pun segera meninggalkan ruangan dimana Orang tua saya di rawat dan pulang .
ketika saya masih di lokasi parkir dan hendak mengeluarkan mobil saya , seperti yang sudah sudah saya menyiapkan uang Rp 1000 untuk membayar jasa parkir .
” pak ini uang parkirnya ” kata saya sambil mau keluar
” eh pak kurang Rp 4000 lagi pak ” petugas parkir itu
” lho Rp 5000 po mas ,kan biasanya rp 1000 ” kataku
” lha mobil bapak ini kan catnya bagus kalo gores gimana ,kan njaganya ekstra bos ” dia berdalih saya diam dan kecut dalam benak belum sempat berpikir tentang kekagetan saya dia udah ngomong lagi
” masak mobilnya bagus kok pelit ” dia mengimbuh pembenarannya
” nih pak Rp 10.000 , sisa nya ambil aja ” kataku tanpa pikir panjang
” makasih bos … mudah mudahan banyak rejeki …”kata tukang parkir tesebut sambil menjurai
hahahaha gokil sekali dalam bathin saya . tadi sebelum di kasih dia bisa gampang mediskripsikan saya sebagai orang yang pelit ,giliran udah di kasih dia doain saya banyak rejeki … aneh nya dengan mudah sekali dia merubah diskriminasi dengan uang Rp 5000.
sebegitu murahnya dalam menentukan sebuah penilaian ,mungkin apakah seperti terdidik oleh keadaan saat ini sebagai mana di tuturkan Guru kita yang ini , bahwa uang bisa membeli sebuah pilihan ,membeli sebuah kekuasaan ,dengan mudah sekali menukar idiologi,idealisme dengan uang Rp 10.000 ,sampai ketika memilih seorang pemimpin juga dilihat dari rupiahnya …
kadang saya juga berfikir begitu mudah nya orang mendapatkan uang meski dengan cara cara meminta di perempatan,pungli di jalan,semprit siapa yang lewat dan lainnya . padahal saya dalam mendapatkan uang harus memeras keringat ,menjungkirbalikan gambar ,menempuh perjalanan panjang ,meninggalkan keluarga,bekerja sampai larut malam menjelang pagi,kok mereka mudah sekali di perempatan lampu merah bilang ke saya bagi duit pak saya belum sarapan….. hehehe padahal saya dari kemarin juga sampai pulang pagi belum makan ….( yah dalam benak saja ) eh saya malah mendiskrisikan sesuatu yah
unik sekali isi kepala masing masing orang yang dengan semaunya sendiri mendiskriminasikan orang lain tanpa melihat isi yang di dalam nya ,hanya karena keyakinan berbeda,partai mereka berbeda ,baju mereka berbeda lantas memeperlakukan dengan tidak adil
mobil berbeda orang yang sama tapi mesti bayar beda ….?
kalo kita belum kasih duit kita di bilang pelit …..( ah tapi saya juga nggak akan beri penjelasan ke dia ) mungkin kalo aku kesana jalan kaki bakal di bilang “eh orang miskin hati hati lo kalo jalan ……”
selintas hal ini sederhana sekali , namun saya kok merasa janggal sekali. pernah juga saya di dikriminasikan sebagai orang yang tertinggal alias katrok oleh orang yang ketemu dengan saya …lebih lebih ketika tahu daerah asal dan tempat tinggal saya yang di gunung ……serrrr dalam benak orang itu ” wah tinggal digunung pak kiri kanan hutan duong ” tentu dengan seabrek pikiran yang serba terbelakang ,jauh dari peradapan,sekolah yang rendah tranportasi dan tak ada transformasi,tapi apa setelah itu geli juga ketika orang orang tersebut akhirnya berkunjung kerumah karena sebuah keperluan lantas tanpa sengaja menjadi tahu banyak hal di sekeliling saya ,lantas bertanya tentang pekerjaan,tentang s2 saya ,tentang bandwidh,tentang internet,tentang tower dll .
mudah sekali orang tersebut akhirnya terbantai oleh diskriminasi dan diskripsi mereka sendiri terhadap diri saya ,padahal saya justru orang yang sangat senang menyanjung orang lain atau saya sering mendewa dewakan orang yang saya temui lantas dengan mudah saya di diskripsikan se enak yang ia bayangkan
saya juga sering heran ketika melihat orang sangat mudah mendikriminasikan dan mediskripsikan orang lain ,apalagi sampai mengkafirkan orang lain,menganggap bodoh orang lain ,padahal kita belum tentu lebih baik dari orang yang menyanjung kita . kadang juga belum tentu kita lebih baik dari orang yang menghormati kita
tapi untuk teman teman blogger saya menghormati anda dan tulisan anda karena saya meyakini betul dengan membaca tulisan maka terbukalah wacana saya
dan saya akan tetap belajar dari tulisan tulisan teman teman blogger
salam hormat saya genthokelir
Popularity: 3% [?]
Tags: Desa, Gunung Kelir, Technologi
Oktober 23rd, 2008 at 21:33
wew…. seringkali orang begitu mudah mendiskriminasikan seseorang hanya melihat tampilan fisik, mas totok. itulah sebabnya, banyak orang yang silau akan hal2 yang bersifat lahiriah. bisa jadi diskriminasi itu muncul akibat pencitraan yang dibentuk berdasarkan kontruksi sosial masyarakat kita yang sedang berada di tengah zaman edan, haks….
gentho :
yah begitulah pak saya sering di diskriminasikan karena orang nggunung hahahaha tapi kan bisa berteman dengan Pak Sawali hehehe jadi lumayan gak katrok
Reply
Oktober 23rd, 2008 at 21:35
btw, saya tunggu-tunggu, ternyata updatenya baru nongol. ikut berdoa, mas totok, semoga orang tua mas totok segera sembuh, sehat, dan segar bugar, amiin.
gentho :
makasih pak sawali doanya
Reply
Oktober 23rd, 2008 at 22:07
sabar mas ..
we live in not so perfect world
gentho :
eh ya ini juga masih latihan sabar hiks hiks makasih
Reply
Oktober 23rd, 2008 at 22:47
Itu berarti tukang parkirnya jujur… dia lebih baik menaikkan tarif jaga parkir dari pada konsumennya kecewa. Hahahaha.
Soal kerja gitu-gituan vs kerja keras bantig tulang meras keringat… jelas hasilnya beda juga. Yg banting tulang peras keringat, pasti akan menuai hasil yg lebih sempurna dan lebih baik.
Upzzz. Menurut saya, tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah. …. hehehehe. Jadi bersyukur lah jika ada orang yg mau menemui kita dan minta sesuatu kepada kita. Artinya dibanding mereka, kita lebih baik…. yeeeeeeeeeee.. kepanjangan deh.
gentho :
betul mas setuju emang saya lebih menyukai menjalan kan saran mas juga hehehe
Reply
Oktober 23rd, 2008 at 22:59
IMHO, selama penilaian manusia masih menonjolkankan perbedaan, penampilan fisik dan kecukupan materi, maka diskriminasi akan tetap ada.
dan kebanyakan kita akan tetap begitu, judge the book by the cover, karena itulah cara yang paling mudah untuk mendeskripsikan seseorang yang baru dikenal.
tak kenal maka tak sayang toh, mas?
doa saya buat orang tua mas totok, semoga cepat sembuh dan dapat beraktivitas seperti sedia kala.
gentho :
makasih doanya dan makasih pencerhannya kulitnya saja tak berarti dalamnya heheh begitu kali tak menentukan isi bulu dari sampulnya ya bu
salam hormat saya
Reply
Oktober 23rd, 2008 at 23:07
sewaktu ngasih uang Rp.10.000 ke tukang parkir apakah sambil marah-marah?
btw
semuanya emang penuh resiko
gentho :
eh enggak lah mas marah marah ya malu lah dan kalo marah kan yang rugi malah saya jadi cepet tua hehehe ya khan mas
Reply
Oktober 23rd, 2008 at 23:13
wahahaha itu mah tukang parkire seng ngelamak alias kurang ajar pak!
gentho :
heheh tapi saya nggak marah kok malah geli dan saya juga pikir ambil contoh hehem salam sukses buat mas epat
Reply
Oktober 24th, 2008 at 00:33
Memang sepertinya sekarang tukang parkirpun bisa menjadi licik seperti itu. Mudah-mudahan kita semua dihindarkan dari sifat-sifat diskriminatif terhadap orang lain.
gentho :
itu cuman contoh kecil sekali ya mas dan makasih juga doanya mas
Reply
Oktober 24th, 2008 at 07:24
Mendiskriminasikan orang lain karena penilaian sekejap mata. Melihat atau mendengar sekilas, sungguh menyesatkan dan tidak adil. O ya, semoga orang tua bapak cepat sembuh.
gentho :
makasih sekali doanya pak kangen juga sama bapak nih
Reply
Oktober 24th, 2008 at 08:29
wah sableng itu tukang parkir !!! baru jadi tukang parkir udah korup. gmana jadi pejabat!!!
gentho :
kalo dia sih nggak bakalan jadi pejabat mas hehem kalo mas Ardy mungkin bisa jadi pejabat hehehe
Reply
Oktober 24th, 2008 at 08:55
tetep semangat mas… semoga ortunya lekas sembuh…
saia gak isa komentar tentang tukang parkir, karena saia juga “mantan tukang parkir”…
gentho :
wahaaa kalo yang markir sampean mungkin malah minta 50000 ya mas hehehe salam hangat selalu
Reply
Oktober 24th, 2008 at 13:15
Walah ada diskrimanasi dalam hal parkir kendaraan….
kasih sepuluh ribu, langsung banyak doa yang mengalir, padahal sebelumnya pasang tampang preman….
Hikmahnya, sepuluh ribu rupiah akan kembali dalam bentuk yang lebih besar, semoga….
gentho :
hahah benar sekali mas makanya saya jadi tersenyum mengingati masa lalu juga sering lihat keadaan seperti itu
Reply
Oktober 24th, 2008 at 13:16
Oiya, ada yang terlupa, semoga orang tua Mas Totok segera diberikan kesembuhan dan mendapatkan anugerah umur panjang. Amin.
gentho :
makasih mas doanya
Reply
Oktober 24th, 2008 at 13:28
Jadi geli bacanya…. bayangin dengan uang 10.000 aj perasaan ma perlakuan orang sudah bisa berubah 180 derajat… hebat benar kekuatan uang 10.000 itu ya pa!!
gentho :
haha begitulah mas saya juga tersipu melihati pemandangan dengan geli dan senyam senyum hahahah
Reply
Oktober 24th, 2008 at 13:33
Ternyata Pengaruh uang sudah semakin besar dan tidak terkendali.. hingga merasuki otak dan menjadi satu2nya tujuan hidup, bagaimana tidak segala sesuatu bergantung dan di ukur oleh materi… semoga aj bisa berubah ya pa..!?
dan untuk Orang Tuanya semoga lekas sembuh…
gentho :
makasih untuk doanya dan saya mengucapkan ribuan makasih untuk tulisannya
Reply
Oktober 24th, 2008 at 14:02
uhmmm…
kLo bawa kuda kira2 biaya parkirnya berapa yak? hehehe
yah itulah…
orang selalu melihat tampak luar saja..
padahal belum tentu juga itu milik kita..
bisa saja pinjam
gentho :
hehehe iya ya mbak eh tapi kalo itu gua gak pinjam milik pribadi semua kok hehehe
Reply
Oktober 24th, 2008 at 14:35
Kata orang : dengan duwit bisa merubah apa saja, termasuk merubah yang Harom menjadi Halom, Halol, yang akhirnya jadi halal.
Untuk pak tukang parkir itu, kok ndak dijawab seperti ini saja
gentho:
haha betul ya mas saya meluncur kesana salam
Reply
Oktober 24th, 2008 at 15:12
masi mending yang diskriminasi tukang parkirnya. klo rumah sakitnya gimana? http://ma6ma.wordpress.com/200.....kan-nyawa/
gentho:
weh iya mas kadang masuk rumah sakit dihadapkan birokrasi yang begitu ya mas
Reply
Oktober 24th, 2008 at 17:10
Hidup ini memang aneh mas, orang selalu mengukur kita dari penampilan kita atau kulitnya saja
gentho :
yah begitu mas nasib menimpa hiks banyaknya orng meng under estimatekan saya hem tapi saya lebih suka hal tersebut hiks
salam hormat saya mas
Reply
Oktober 24th, 2008 at 17:13
pepatah jawa mengatakan ajining rogo soko busono, dari sinilah terkadang kita sering terjebak dengan glamaour dalam menilai seseorang sehingga dengan berbagai cara terkadang manusia berusaha tampil sebaik2nya dihadapan orang lain hanya untuk mendapatkan simpati demi tujuan tertentu apalagi saat ini adalah moment yang sangat tepat untuk itu terutama oleh para politisi kita
gentho :
eh gitu ya pak memang membingungkan ketika pepatah di salah artikan hem salam hormat dan terima kasih
Reply
Oktober 24th, 2008 at 18:43
moga cpt sembuh ortunya ya pak
, barangkali mobilnya paling bagus tuh di antara yg parkir hik’s :d
gentho :
makasih mas doanya hehem salam sukses
Reply
Oktober 24th, 2008 at 23:16
Tapi sebenarnya kalau mau jujur kita juga butuh cara penyampaian….sebagai contoh..sewaktu naik becak di Yogya..kebetulan ketemu tukang becak yang sudah tua….Saya tanya,”Pinten pak..?(Berapa pak…?)…si tukang becak menjawab,”Sakersane…”(terserah)…kok jadi gak tega…akhirnya malah ngasih yang lebih banyak…hehehehe…
Reply
Oktober 25th, 2008 at 07:17
Lagi2 pnampilan… banyak berkilah… hnya demi sebuah uang
Sya gak ngrti dngn cara pikir orang sprti itu
gentho :
yah begitulah mas kenyataan yang ada hehehe salam kenal mas
Reply
Oktober 25th, 2008 at 16:18
ah, kita memang seringkali terjebak dengan baju dan pakaian luar. Saya sendiri kalo jadi tukang parkir itu mungkin akan berfikir yang sama.
Hanya, saya berbaik sangka ajah, boleh jadi doanya untuk mas itu karena dia menyadari kekeliruannya menafsirkan mas yang lalu ia tebus dengan memberikan doa setelah ia mendapat lebih dari yang ia minta. Mudah-mudahan begitu. Amin.
Reply
Oktober 25th, 2008 at 16:58
Wah pungli juga ada disana ya mas, kirain cuma ditempat saya aja. btw yg sabar ya mas
gentho:
hehhe eeh je mas banyak di sepanjang jalan tuh kita lihat pake seragam minta seribuan hehehe
salam kenal ya mas
Reply
Oktober 25th, 2008 at 19:38
1. semoga orangtua mas totok cepat sehat.
2. dalam soal parkir, mari kita hilangkan kata ‘diskriminasi’, anggap saja dia sebagai orang yang patut dibageni rejeki. kalau tidak rela ‘diskriminasi’ dihilangkan, anggap saja dia memang baru kurang ajar.
ngomong2 saya juga pernah punya pengalaman di masalah parkir lho. (anggap saja saya sedang sharing ya…). di suatu tempat perbelanjaan di kota saya ada tempat parkir exclusive, di depan satu ‘warung ayam goreng import’. yang parkir di situ adalah mobil2 kelas wow pokoknya. ternyata tatacaranya pun beda. bayar tarif umum untuk mengambil karcis, plus ’sogokan’ dengan lambaian minim 10ribu. suatu kali saya iseng, yah memang punya saya cuma motor, saya bilang sama pak parkir bahwa saya mau parkir di situ, saya bayar 10ribu, kata saya padanya. alhasil….motor saya berjejer dengan santainya di antara mobil2 bagus, persis di dekat pintu masuk ‘warung’ tersebut. hehe…
3. mengenai ‘diskriminasi’ pandangan seseorang terhadap kita…halah,sudahlah mas. biarkan orang lain asyik dengan pikirannya sendiri.
salam hangat dari saya…
gentho :
wah maksih sekali mas doanya berkat doa mas sekarang dah sembuh
dan pengalaman mas Goenoeng unik dan lebih seru ya hahahah pake motor boleh asal mbayarnya sama hahahaha keren dong motore eklusip heheh
salam hormat juga untuk njenengan
Reply
Oktober 25th, 2008 at 19:38
eh, ada yang lali…
Evo-nya bagus tenan !
gentho :
makasih mas mung titipan Tuhan hehehe tinggal pake dan ngeku hehehem salam
Reply
Oktober 25th, 2008 at 20:10
mmmhh… kalo saya sih sepertinya memilih orang untuk meng-under estimate-kan saya, daripada terlalu di over estimate-kan… lebih berat deh kayaknya…
salam untuk orang tuanya mas.. cepet sembuh…
gentho :
makasih mbak doanya dan sekarang dah lumayan
Reply
Oktober 25th, 2008 at 20:15
Hua ha ha….
bener juga ya argumen tukang parkirnya! mobil offroad sama mobil juara rally beda tarif parkirnya… kekekekekekek
*salut sama mas Gentho yang namanya serem ternyata lapang dada alis lembut hatinya
gentho :
weh emang harus gitu ya mas beda taripnya hahaha salam untuk semua keluarga mas Andy yang kemaren barusan di acak acak ALEXA hahaha
Reply
Oktober 25th, 2008 at 23:18
the parkingman just do what he want to do, dalam seleksinya dia menentukan jalannya..dan jalan itu mungkin mas totok..hasta la vitoria siempre comandante..;)
Gentho:
updet lage mas hahahahah
Reply
Oktober 25th, 2008 at 23:34
Blogwalking Sambil Nyari Kenalan
Salam Dari duitptc.info
gentho :
salam kenal juga mas dan makasih
Reply
Oktober 25th, 2008 at 23:51
mampir lagi..
apa kabar?
mampir lah ketempat saya
ada kopi hangat dan ubi goreng bermain kata
gentho :
so pasti mas itu merupakan kegemaran saya yang terburai dan tersuguh di tempatnya mas bambang makasih
Reply
Oktober 26th, 2008 at 22:46
Itu memang kerap terjadi, Mas Totok. Orang begitu mudah mengukur serta menetapkan sesuatu dari apa yang ia lihat dan nilai.
Suka tidak suka: ada perbedaan penyambutan saat seseorang turun di depan lobi sebuah hotel berbintang. Apakah ia menggunakan sedan Timor atau BMW seri 7. Pasti ada perbedaan. Padahal sama-sama tamu.
Ada perbedaan pelayanan saat seseorang hendak membeli rambutan di kios pinggir jalan. Apakah orang itu menggunakan mobil, motor, atau turun dari angkot. Harganya bisa beda-beda.
Secara iseng aku penah melakukan percobaan hal-hal seperti itu. Nyatanya, memang iya: orang begitu mudah mengukur serta menetapkan sesuatu dari apa yang ia lihat serta nilai.
Ini memang persoalan cara pandang. Cara berpikir.
Semoga keadaan orangtua Mas Totok makin membaik, Mas.
Gentho : welah mas DM jga pernah ya di gituin kekeke dan terjadi kesaya juga kapan kita rubah cara pikirnya mas dan makasih doanya
Reply
Oktober 27th, 2008 at 01:28
Uang bisa membeli segalanya?
Hidup memang penuh diskriminasi mas!
Oh ya semoga lekas sehat ortunya mas!
Sampean wong ndeso kan mas? Mari kita ndesokan INDONESIA!
Gentho : Hore indonesia Ndeso
suwun mas dan sukses rikone
Reply
Oktober 27th, 2008 at 10:13
Hahaha…, berarti biaya parkir di sana disesuaikan dengan tingkatan seseorang, apakah termasuk golongan orang kaya, menengah, atau menengah ke bawah.
Gentho : yah begitulah pak kenyataannya hehehe salam kenal dan makasih pak Edi
Reply
Oktober 27th, 2008 at 14:12
biasa, terbiasa atau kebiasaan?
pak, pernah gak terbersit dalam pikiran..kenapa mereka para pekerja jalanan, baik itu tukang parkir, atau pengemis kehidupannya dari tahun ke tahun tidak berubah? padahal kalau dipikir, penghasilan mereka cukup banyak loh. hitung saja, seorang anak jalanan yang mengamen, paling tidak berpenghasilan 30ribu sehari, kali kan dengan 30 hari. bukankah lebih banyak dari UMR yang ditetapkan pemerintah untuk tamatan SMU?
tapi, kenapa kehidupan mereka seperti itu saja?
mungkin, itulah yang namanya berkah rejeki..
rejeki yang bapak terima pastilah lebih berkah, sehingga dapat menghidupi keluarga dengan layak. entah mereka…
hehe, kok jadi sok bijak gini yah…tapi ini hanya kemungkinan sih pak…menurut saya aja loh…hehe
maaf yah, kepanjangan komentnya.
Reply
Oktober 29th, 2008 at 12:51
wekekekeke… ta’ gores nangis panjenengan….
lha kan dimana2 sama… tukang tambal ban dan tukang sebar paku, tukang parkir dan… ah jadi ngomongin orang!
Reply
Oktober 30th, 2008 at 19:25
DISKRIMINASI….
Hmmmm….
Lama saya berpikir, tapi tetep tak paham juga.
Kalau Mi dan Nasi saya paham. Tapi Diskrinya itu yang blas ndak paham…
Kalau diskrit saya paham kerana saya belajar Matematika Diskrit…
Reply
Oktober 30th, 2008 at 20:44
ternyata yang kena diskriminasi nggak cuman orang miskin, tapi orang kaya juga mulai kena diskriminasi…. ternyata ….
Reply
Oktober 30th, 2008 at 20:46
biasanya orang bermobil mendiskriminasi orang naekmotor (kayak saya ini) dngan jalur khusus mobil. lah sekarang…???? kena batunya hahahahahahaha…………
)
Reply