di hari pertama lebaran setelah Sholat Idul Fitri saya sungkem meminta ke maafan dari Ibu saya tercinta yang telah melahirkan saya, setelah itu kemudian saya pergi ke makam Almarhum ayah saya Nyekar ( Berziarah ), bersama Ibu saya,Istri saya,Anaksaya,dan Adik-adik saya , setelah selesai membaca Tahlil dan doa saya terngiang kembali pesan ayah saya saat beliau masih Hidup .” Jangan Memalukan Yang Melahirkan “
Itu adalah salah satu pesan yang selalu terngiang dari Almarhum Ayah saya yang telah meninggal dunia pada tahun 1997 pada usia 49 tahun dan usia saya masih 21 tahun,sekilas memang hanya beberapa kata yang terangkai dalam sebuah kalimat ,namun betapa berat dan sangat luas dalam menjaga maknanya,
dalam proses hidup seseorang termasuk saya sendiri tentu tidak lepas dari banyak hal yang memungkinkan membawa kita dalam sebuah lingkaran kejahatan ,yang entah karena kesengajaan maupun tidak kadang kita terseret pada arus setan yang tanpa terasa menjerumuskan kita ,pada usia dimana saya belum cukup umur saya telah ditinggal Almarhum Bapak saya ,tentulah seperti kehilangan semangat hidup dan seperti kehabisan bekal makan dalam sebuah perjalanan,tapi disadari atau tidak masa kita akan ditinggal orang tua itu pasti datang tentu hanya masalah waktu,
sedangkan pemaknaan dari pesan ayah saya tersebut tentu bukan sekedar tidak membuat malu Ibu saya yang melahirkan namun dalam makna luasnya adalah selalu menjaga nama baik dari mana kita berasal,dari orang tua kita, dari sekolah kita ,dari tempat berkarya kita ,dll tentu menjaga agar tidak memalukan yang melahirkan bukan perkara yang mudah dan ringan , apalagi setelah pesan tersebut di teruskan dengan petuah ” lamun siro pinter ojo ngguroni ” ( jika kamu pandai jangan menggurui ) ” lamun siro iso banter ojo nglancangi ” ( Jika kamu bisa cepat jangan mendahului ) ” lamun siro landep ojo natoni ” ( jikala kamu tajam jangan melukai )
tentu bukan perkara yang mudah untuk mengikuti beberapa petuah di atas ,dalam mensikapi kodrati manusia kadang memang melanggar petuah di atas kerena tidak sedikit di antara kita yang merasa pandai lantas menggurui ,merasa kaya lantas tidak bijaksana dan seterusnya ,okelah saya sendiri juga bukan yang benar sendiri namun kali ini saya ajak anak saya ke Kuburan untuk mengingatkan kepada mereka tentang “eling mulo buko ” ( ingat asal mula ) dan “eling tembe mburine“( ingat pada Akhirnya ) saya sampaikan pesan itu pula kepada anak dan adik saya ” Nduk Bapak nduwe opo iki lantarene soko wong tuo ( Nak Bapak bisa memiliki apa apa ini karena adanya orang tua ) mulo ngati ati yen ngopo wae ojo nganti gawe isinĀ wong tuo” ( maka jangan sampai berbuat apa pun yang memalukan orang tua ) kendalikan setiap perbuatan dan selalu mengingat kepada etika yang tentu menjaga pretasi untuk tidak mencemari nama orang tua , bukan berarti hati hati lantas tidak berani mengambil resiko untuk maju namun selalu memperhitungkan resiko dengan mengendalikan nya ,berpacu pada prestasi untuk maju akn membangun nama baik orang tua ,berprilaku profesional tidaklah membikin kita merugi ,meyakini rizki milik Allah dan mensyukurinya sudah memastikan kita akan selalu Balance dan seimbang antara kebutuhan dengan kemampuan , ” Aku tidak serta merta menjadi seperti ini namun proses yang kita jalani dan kita pelajari dan senantiasa membagun Obsesi untuk tidak memalukan yang melahirkan menuntun saya menjadi seperti ini ” masalahnya mampu atau tidak kita menikmati dan mensyukurinya ” di sebelah kuburan itu saya masih terduduk mendepani Istri, Anak, Dua adik laki-laki saya beserta istrinya ,
kembali saya menatap satu satu mereka ” Ingat Almarhum memang tidak meninggalkan warisan Harta benda namun hanyalah meninggalkan pesan prinsip hidup yang harus kita pegangi untuk pedoman disamping penjabaran dan pemaknaan Kitab Agama Kita ” dalam perjalanan saya dari ketika menjadi pekerja sampai belajar menjadi pengusaha ( kontraktor ) tentu tidak sedikit hal yang mengiurkan untuk melakukan hal hal yang tidak baik namun jikala kita mampu menejement kenakalan,kepenatan,dan kesenangan tentu tidak akan menjadikan kita larut dalam ketidak pastian,jadi perhitungkan selalu perbuatan anda untuk tidak memalukan yang melahirkan …… Taburkan bunganya dan kita akhiri di sini selamat berakifitas
Tags: agamis, kontraktor, Sejarah

October 9th, 2008 at 08:12
kalo guru saya di pesantren bilang: “ojo ngisin-ngisinke waris…”
met kerja (kembali), mas….
genthokelir : lak yo leres mekaten to mas
October 9th, 2008 at 11:45
betul mas, ternyata sy masih lebih berutung ya orang tua sy masih lengkap keduanya. terima kasih atas pencerahannya..
October 9th, 2008 at 11:46
btw link nya dah sy add juga
genthokelir : lho kan dah lama mas sampean saya add hehehe
October 9th, 2008 at 11:49
oh iya mas kelupaan yang satu lagi nutfajri.com mohon di add juga ya, sy add duluan deh
October 9th, 2008 at 17:28
Ziarah….
“sesuatu yg kita anggap biasa keberadaannya baru terasa sangat penting, apabila ia tidak lagi berada disisi kita”
genthokelir : lha hiya je mas kadang jadi keingatan kita akan mati juga
October 9th, 2008 at 19:56
artikel yang menarik, bermanfaat buat saya
salam kenal
genthokelir : sama sama mas dan salam kenal kembali terima kasih mas
October 9th, 2008 at 21:41
Birul walidain.. menjadi kunci menuju gerbang masa depan.
genthokelir :
betul sekali njenengan mas
October 9th, 2008 at 22:09
Duh omongannya mas tengku bener2 dalam…, kenyatannya yah memang begitu
genthokelir :
emang betul kan mas
October 10th, 2008 at 02:29
postingan ini banyak ungakapn filsafat jawa banget gitu loh *halah* yang pasti, ibu sosok yang selama ini selalu membuat saya kagum. etos pengabdiannya dalam membesarkan anak2 tak bisa ditakar dengan apa pun, lebih harta benda. makanya, setiap idul fitri, saya harus lebih dulu sungkem dan mencium punggung tangannya dalam2 sebelum berhalal-bihalal dengan orang laun.
genthokelir :
wah kalo filsafat bahasa njenengan yang lebih profesional itu heheheheh salam hormat saya Pak sawali kan melahirkan saya juga dalam bahasa namun saya masih memalukan dalam berbahasa hehehhehehe
October 10th, 2008 at 08:36
yup bener kang mas bos…, jangan memalukan yang melahirkan kita..
*hiks..jadi ingat emak..*
genthokelir :
emang selalu ingat emak mas
October 10th, 2008 at 10:55
Kebetulan ortu saya ya tinggal ibu saja… Untuk urusan apapun, semaksimal mungkin saya sendiko dhawuh pada beliau…
Ibu saya ada di http://www.murya.info...
genthokelir:
wah sama mas saya tinggal punya ibu kandung saja heheheh
October 10th, 2008 at 15:52
Anak-anak perlu belajar dari orang tua dan orang tua perlu belajar dari anak-anak pula. Kita saling mengisi.
Selamat hari raya Idul Fitri. Maaf lahir dan batin.
genthokelir :
terima kasih dan betul sekali komentar anda met lebaran juga aku telat nih
October 10th, 2008 at 18:09
wih gemana bos kabare liburan lebaran masih tetep di kampung salam untuk keluarga mas totok
October 10th, 2008 at 23:28
Dan ikutilah selalu petuah orang tua. Maka Insya Allah akan selamat dunia dan akhirat.
genthokelir :
mbetul sekali mas Rafki saran sampean dan terima kasih kunjungannya
October 11th, 2008 at 01:20
ojo dumeh
ojo kagetan
ojo gumunan
itu yang sering kuingat
grnthokelir :
iya itu masuk juga dalam pesan dulu ya
October 11th, 2008 at 13:37
Benar memang, menghormati ayah dan ibu, membuat mereka bangga akan kita tidak saja membahagiakan mereka tapi juga berkenan di mata Tuhan.
genthokelir :
betul sekali anda
October 11th, 2008 at 17:58
Ayah & Ibu is the best
http://www.asephd.co.cc
genthokelir :
kaka very best …..
October 11th, 2008 at 19:23
membuka pintu hatii…
genthokelir :
terima kasih akhirnya
October 11th, 2008 at 23:33
YUPIIII… MARI BIKIN BANGGA MEREKA… KAN LEBIH GAUL KLO BIKIN BANGGA DARIPADA BIKIN MALU… HE..HE…
genthokelir:
bentul sekali mas
October 12th, 2008 at 09:21
frase yang bagus mas. jangan memalukan yang melahirkan !!! keren
genthokelir :
masih keren presiden XKH hehehehehehhe
October 12th, 2008 at 12:40
hm… merenung…
genthokelir :
jangan merenung terus nanti ngat yang jauh hehehehehe
October 12th, 2008 at 13:44
terima kasih atas pencerahan dan motifasinya mas…
genthokelir:
Ah mas itu sekedar menuliskan pikiran kok dan saya masih belum bisa jadi motifator heheheh makasih mas
October 12th, 2008 at 23:19
Pesan yg baik dan jgn dilupakan…
Thanks ya atas pencerahannya..
genthokelir :
sama sama mas dan saya berterima kasih anda telah berkunjung kesini salam kenal sekali
October 13th, 2008 at 01:26
Buat bangga … dengan menulis kebaikan, he he he . Jadi amal buat yang melahirkan kita (ilmu yang bermanfaat, dan manfaatnya kita peruntukkan untuk yang melahirkan).
genthokelir :
Wak Ersis kan Membantu saya melahirkan tulisan dan terima kasih untuk Wak Ersis semua nasihatnya hingga saya lahir walu masih prematur heheheh
October 13th, 2008 at 04:05
Andai ayahanda Njenengan membaca tulisan ini, aku yakin akan sebak matanya, namun bukan karena sedih, lebih dari itu: bangga tiada tara.
Terima kasih, Mas. Setelah membaca tulisan ini, aku jadi terdiam sejenak. Menarik nafas dan menimbang-nimbang: apa yang sudah kupersembahkan pada seseorang yang telah melahirkan kita. Nyatanya: masih tak sebanding.
Ribuan terima kasih.
genthokelir:
ah mas DM betul sekali kita tak sebanding terhadap orang tua kita tapi njenengan juga ikiut proses kelahiran saya hehehehehe
October 13th, 2008 at 07:40
yang ini top tenan …,
cen ngelmu kui, angel tinemu ne,….
kudu mawi muter-muter disik lewat dalane sing kudu di lewati..
koyo lewar gugel, atawa kudu munggah gunung kelir disit … karepe supoyo ketemu karo ngelmu, … ketemu ngelmu ngingu wedus, ngingu tower ( ha ha ha ) lan ngingu kabisan ing bababgan komputer lan sak dulure …
Genthokelir :
piye to mas kok nggak dapet cewek kesini aja banyak hehehehe
October 13th, 2008 at 07:55
Bagus sekali nilai moral postingannya, Mas! Sungguh dalam makna “Jangna Memalukan Yang Melahirkan”. Kalau hal yang satu ini bisa dijaga, Insyaallah kita akan selamat hidup di dunia dan akhirat. Amien. Salam Hormat.
genthokelir :
Terima kasih itu juga belajar dari bapak juga sebagai yang ikut melahirkan saya dalam proses hidup saya
October 13th, 2008 at 08:24
kenapa pak
genthokelir :
nggak papa mas dan knapa
October 13th, 2008 at 12:51
bersyukurlah yang dari kecil dirawat emak lan bapake dewe.
terima kasih ibu, kau telah melahirkanku…
genthokelir :
betul sekali mas itu dan terima kasih
October 13th, 2008 at 13:23
yah, memang sebagai anak, tidak sepatutnya kita melukai hati orangtua, dengan membuat mereka malu..
dg keberhasilan kita, kayaknya kita telah membuat mereka bangga dan gak memalukan yang melahirkan
tulisannya bagus bgt, keren…
tradisi nyekar tiap idul fitri masih ada sampe skrg di kluargaku, tiap idul fitri kita slalu nyekar ke sarean mbah + adik ibu, coz alhamdulillah ortu masih lengkap…
genthokelir :
bwener sekali mas dan bersukur masih lengkap dua orang tua selamat lah anda masih memiliki peluang untuk membalas budi ke 2 orang tua
October 13th, 2008 at 15:02
Entry yang menyentuh hati dan mengharapkan kita dapat mendidik anak-anak kita sebagaimana orang tua kita mendidik kita. Tanpa mereka siapa kita di muka bumi ini. Sungguh terkesan bila mengingati anak-anak yang sudah tidak punya orang tua lagi. Untuk mengesaninya, biasakan diri dan ajak anak-anak kita ke panti asuhan (kalau tidak salah ia adalah rumah anak-anak yatim).
Salam kenal dan terima kasih atas kunjungan. Harap mampir lagi untuk berkongsi idea dan maklumat. Salam hormat.
MENULIS GAYA SENDIRI
http://websitifatimah.sosblog.com
genthokelir :
Terima kasih sekali saran nya dan kunjungannya dari negeri sebelah heheheh
October 13th, 2008 at 19:30
mungkin,saya trmasuk yg tdk pernah nyekar seumur hidup saya.entah besok..
doa tanpa kata, itu lebih dari sekedar pemberian utk orangtua,sahabat,saudara,dll..
krn merekalah yg ‘melahirkan’ saya..
genthokelir :
hihi betul sekali semua itulah yang menjadikan proses kelahiran kita
October 13th, 2008 at 19:48
Penuh filosofi jawa pak, ada unen, nah kalau tembang-tembang saya sangat tidak paham hehe
genthokelir :
terima kasih mas heheh lama sekali nggak bersua
October 13th, 2008 at 20:46
Subhanallah…menyentuh sekali.
Alhamdulillah bisa jadi pengingat bagi yang lain.
Maaf lahir bathin.
genthokelir :
Makasih Bunda mudah mudahan bunda sekeluarga menjadi tauladan untuk anak anak nya salam untuk bapaknya Lanang
October 13th, 2008 at 21:25
jadi anak harus berbakti kepada kedua orang tua…
“mohon maaf lahir batin atas segala khilaf”
kunjungi web-ku di http://www.kaum-biasa.co.cc
genthokelir :
Terima kasih mas ciwir sama sama saya udah add di sebelah mas
October 13th, 2008 at 22:09
ya. Petuah -kalau di tempat saya bernama- urang bahari mas totok, selalu bermakna lebih. Postingannya inspiratif. Membuat saya terenyuh dan berkaca lebih ke dalam. Mudah-mudahan jangan sampai terdapat kalimat-kalimat saya yang menggurui, baik postingan maupun komentar selama ini. (Tak berkeberatan bila saya izin copy? )
Saran nih pak. Mungkin kalimat2nya bisa dipisah beberapa baris. Soalnya sedikit saat terhanyut membacanya.
genthokelir :
makasih juga mas ah saya nggak merasa di gurui kok memang saya belajar dari tulisan anda dan teman bloger yang lain hehehe sukses selalu
October 14th, 2008 at 00:49
Salam kenal,mas…
ini kunjungan perdanaku kesini
genthokelir :
Makasih telah jauh dari berkunjung dan salam hormat saya
October 14th, 2008 at 10:56
Posting yang menyentuh dan memberi inspirasi.
genthokelir:
makasih sekali mudah mudahan saya tercerahkan dan salam kenal
October 14th, 2008 at 15:12
semoga kita termasuk anak yang MIKUL DUWUR MENDEM JERO bagi kedua orang tua kita mas, salam kenal
genthokelir :
sama sama mas dan terima kasih sekali
October 14th, 2008 at 23:21
Jangan memalukan melahirkan dan jangan memalukan Tuhan
Salam kenal!
genthokelir :
makasih mas Dony
October 15th, 2008 at 03:06
salam kenal, jadi kangen emak
Genthokelir :
hi hi emang sampean jauh dari emak mas
October 15th, 2008 at 05:52
Pesan moral bagi bangsa kita!
genthokelir :
mosok to mbah ….
October 15th, 2008 at 11:32
salam kenal juga mas telah meluangkan waktunya di heart
genthokelir :
sama sama mas saling berkunjung saya juga belajar pada tulisan anda
October 15th, 2008 at 16:30
setuju Pak.. dulu saya anggap angin lalu pesan itu. baru berasa benar pas udah jadi orang tua juga
Genthokelir :
Gimana setelah jadi Ibu heheheh selamat deh dan mudah mudahan jadi ortu teladan bagi anak anak nya
October 16th, 2008 at 02:07
dalemmm….
saya sudah berhenti dari gelapnya dunia kontraktor kekeke
Genthokelir :
pake lampu mas biar nggak gelap dan hebat dong sekarang berali profesi apa lho mas jangan jangan dah jadi konglomerat nih atau infestor heheheheh
October 16th, 2008 at 05:03
sembahnuwun telah menjeer telinga saya dengan tausiah postingan. kiranya bisa menggerakkan kesadaran saya akan arti penting perjuangan orang tua. kesadran yang sering mblero belakangan ini. suwun ustadz..
genthokelir :
wah Mr Gus Bisa aja saya sekedar ceritain kok ke adik dan anak saya je makasih
October 16th, 2008 at 17:04
wah asyik yah kalo lebaran bisa berkumpul dengan keluarga.
Genthokelir :
Yah saya juga jarang mendapat kesempatan itu kok mas
October 16th, 2008 at 18:08
sy sedih pak baca posting ini .. krn slama ini blm bs berbuat bnyk /u org yg melahirkanku, merawatku waktu bayi. Hanya berharap, semoga aku di beri kesempatan untuk bisa membahagiakan kedua orang tuaku. Amin !
genthokelir :
Betul sekali mas saya juga nggak bisa balas kebaikan orang tua saya je hehehe ,mudah mudahan anda mendapat kesempatan itu dan makasih mas atas komentarnya
October 17th, 2008 at 02:01
Mas, kemana saja…
genthokelir:
pergi kebandung ketemu mas Daniel Mahendra nan keren tapi masih mimpi hahahahahaha
October 18th, 2008 at 22:18
Rida orang tua Merupakan Ridha Allah juga..
Genthokelir :
Benar sekali itu makasih
October 19th, 2008 at 07:33
Petuah yang dalam sekali…
jadi inget ortu di kampung nih dah setahun lebih ndak pulang…
Genthokelir :
harus selalu mengingat orang tua hehehe makasih
October 21st, 2008 at 01:38
petuah
sebuah kalimat yang menghentak
lama di cari ternyata disini
genthokelir :
wah jangan mendiskripsikan begitu mas bambang saya juga salut pada tulisan sampean ha salam
October 22nd, 2008 at 13:34
Benar-benar sebuah petuah bijak yang sama sekali tidak bisa terbantah. Semoga semakin banyak orang tua yang mau memberikan “weling” kepada anak-anaknya, supaya tidak banyak yang menggurui, mendahului, dan melukai.
Eh, nglancangi ki boso Indonesia-ne sing pas opo yo??? Mendahului ki ndisiki, nglangkahi meh podho karo nglancangi, tapi kok yo ora pas nek ditulis melangkahi. Mboh wis, angel banget ukoro Jowo di basakne Indonesia…
genthokelir:
emang kadang bahasa jawa malah susah untuk di indonesiakan paling di ambil maknanya aja hehehe makasih mas
January 9th, 2009 at 14:09
Mas Atok,
ikut senang. ikut gembira, dan saya diam-diam menyimpan kebanggaan terhadap sampeyan. Salam buat keluarga. Sukses selalu.
Saya akan terus ikut berdoa, untuk kebaikan kita bersama… semoga.