Anda mungkin tahu atau pernah tahu tentang nama nama pemimpin tanah jawa atau nama raja raja jawa yang di hubungkan dengan tanah atau bumi ,seperti Mangkubumi (Memangku Bumi) , Pakubuono ( Paku atau Pusat Alam Semesta ) , Paku Alam ( Pusat Alam semesta ) sampai Hamengku buono (Memangku Alam Semesta) , yang semua nya dimaknakan sebagai pengelola bukan penguasa.
Makna yang disiratkan dari nama nama pare pemimpin Jawa tersebut bukan sebagai pemimpin yang menguasai namun lebih pada pengelolaan atas tanggung jawab nya sebagai pemimpin, jadi sebagai pemimpin bukan lantas seenaknya sendiri memerintah dan memaksakan kehendak Otoritasnya
Masih lekat dalam ingatan kita tentang siapa Mbah Maridjan ?
Kemudian kira kira seperti apa makna yang tertangkap ketika mendengar cerita tentang Mbah Maridjan
yah mesti sangat lah santer mengalir cerita cerita yang heroik ,perkasa ( Roso rosa),berani, sedikit campur nekad, serta di anggap membangkang terhadap perintah penuasa serta para ilmuwan pada saat merapi mengeluarkan lahar panas dan bahkan menurut analisa para ahli dan ilmuwan bahwa waktu itu Gunung Merapi akan meletus serta dalam keadaan yang membahayakan .
Lantas apa yang kita herankan…..?
Namun kita perlu tahu bahwa ketika Mbah Maridjan berjalan dia tidak mengenakan atau memakai alas kaki ( Ber telanjang kaki ).
Kemudian apa hebatnya orang yang tidak memakai alas kaki ( bertelanjang kaki )…..?.
Mbah Marijan tidak memakai alas kaki disini adalah dimaksudkan agar menjadi lebih membumi , lebih merasai bumi .
Dan itu mungkin yang merupakan salah satu sebab dia berani untuk naik ke puncak Gunung Merapi, yang justru pada saat orang lain pada lari kebingungan untuk mengungsi,mencari tempat untuk berlindung dengan ketakutan.
Sebenarnya bukan berarti Mbah Maridjan melawan atau membangkang bahkan bukan pula sok berani namun lebih pada keteguhan serta keyakinanya yang iklas untuk memohon pada Allah SWT , berdoa untuk keselamatan masyarakat di sekitar Gunung Merapi.
Satu hal yang dapat kita ambil percontohan ketika Mbah Marijan yang tak memakai alaskaki tersebut menjadi seorang pemimpin sebuah Negara, maka dia tidak akan mengungsi dan lari menyingkir ketika akan terjadi ledakan ( ibarat marahnya rakyat kepada pemerintah karena gejolak ketidakpastian nasib bangsa ) ,tapi malahan Mbah Maridjan mendatangi sumber lahar tersebut dan kemudian meminta kepada Allah SWT untuk meredakan kemarahan rakyatnya serta berdoa memohon agar rakyatnya terhindar dari bencana,dengan tanpa mengenakan alaskaki (alasan yang membatasi antara pemimpin dengan rakyatnya)
Dalam wacana tertentu ketika kita tidak mengenakan alas kaki kita menjadi lebih merasai bumi tempat kita berpijak,lebih memahami bumi yang kita jadikan tempat ataupun media apapun dalam hidup kita.
Bagian tubuh seperti tangan dan kaki dari mbah Marijan selalu langsung melekat serta menyentuh langsung kebumi sementara kaki kita terhalang oleh alaskaki yang membatasi bagian tubuh kita dengan bumi.
Kaki tangan kita para orang yang mengaku terdidik dan modern dengan segala kelengkapan ilmu logika serta mengacu pada rasionalitas ini hampir selalu bersih, dan hampir tak pernah bersentuhan dengan bumi yang kita pijak , dengan sungguh-sungguh menyentuh bumi,baik dalam pemaknaan yang sesungguhnya maupun makna kiasanya kiasan..
Yah memang sekarang banyak sekali dari sebagian orang menghubung hubungkan dengan beberapa kesenangan melakukan gaya gaya Tarsan menjadi pecinta alam ,naik gunung,sepeda santai dan lain sebagainya dengan tujuan agar lebih merasakan kesejukan alam ,
Namun cara cara yang di tempuhnya sangat berbeda tetap saja kelihatan ‘palsunya’, bagaimana tidak sebab seluruh tubuh, kaki, tangan terbungkus rapi, dengan berbagai busana serta peralatan yang mahal harganya.
Gaya hidup serta cara pandang orang yang seolah pandai serta rasionalis ini memang beda dengan gaya Wong nDeso atau Wong Nggunung,yang tidak mengenakan alaskaki kerena sebuah kebiasaan dan keterbatasan.
Jadi bagaimana hendak memimpin jika kita tidak bisa membumi dan tak menanggalkan ARISTOKRAT ( sok tuan,Ningrat) yang jelas terbatasi untuk besosialisasi.

January 13th, 2009 at 15:00
wih, pertamax
January 13th, 2009 at 15:24
keduax yah?
btw, peluang pemimpin yang memangku buana untuk menjadi presiden RI gimana yah?
apakah sudah cukup membumi?
January 13th, 2009 at 16:02
jalan dengan kaki telanjang dan makan dengan tangan tanpa sendok garpu… enaknyaa.
January 13th, 2009 at 16:21
merindukan pemimpin seperti ahmadinejad..
January 13th, 2009 at 16:28
kapan ya..?
*membayangkan*
January 13th, 2009 at 16:35
wah2 dalem jg makna artikel diatas. (klo sy gk salah tangkep, hehe)
btw, apa bisa diimplementasikan dengan kehidupan yang tidak berputar melainkan berjalan.?
January 13th, 2009 at 18:52
hajar aristokrat.
January 13th, 2009 at 19:14
saya menunggu pemimpin yang “membumi”
January 13th, 2009 at 19:56
Doakan mas, pila nanti saya jadi presiden bisa seperti mbah maridjan…
January 13th, 2009 at 21:05
setuju om sama postingannya.mudah-mudahan pemimpin sejati segera muncul ya om
January 13th, 2009 at 22:01
apakah pemimpin negeri ini sudah membumi atau malah sudah layak untuk dikebumikan?
January 13th, 2009 at 22:43
iso ae mas toto ngubungke nama raja-raja jawa dengan tanah. tp nek dipikir-pikir yo bener. baru kali ini aku tahu
January 13th, 2009 at 22:44
Setuju dengan mas tok….
Tp knp byk pemimpin memilih tdk membumi?
Apa krn pemimpin membumi akan menjatuhkan wibawa dirinya sendiri?
January 14th, 2009 at 05:15
Jadi inget mbah marijan kang!
2007 lalu, saya ajak teman satu sekolah mengunjungi mbah marijan dan menyaksikan sendiri profil beliau dari dekat… Benar-benar sosok pemimpin yang membumi. jauh dari kebisingan pamrih dan glamour kekuasaan.
Sangat berkesan.
January 14th, 2009 at 06:58
Mas Totok adalah salah satunya, karena telah sukses jadi JURU KUNCI Gunung Kelir, meskipun tampilannya ndak mungkin ala Mbah Maridjan.
Siapa tau suatu saat Mas Totok dibaptis menjadi “Kelir Bumi” atau “Mangku Kelir”…
Setuju ndak setuju, kenyataannya Gunung Kelir mulai naik daun dan dikenal sampai ke Barat & Timur, dan harus diakui itu berkat Mbah Kelir Bumi alias Mas Totok Kelir alias Gentho Kelir…
January 14th, 2009 at 10:58
Kalau menjelang pemilu biasanya membumi…..ikut2an ke sawah menanam padi…..blusukan keluar masuk pasar….heehehe…rajin berkunjung ke masyarakat…..murah senyum….entah nanti kalau terpilih…
January 14th, 2009 at 15:37
ditunggu mas yang jadi pemimpin “membumi”
January 14th, 2009 at 20:17
mungkinkah Saya.. pemimpin yang ditunggu-tungu…
salam kenal mas..
January 14th, 2009 at 21:20
memang para pemimpin yang sudah tidak membumi semakin banyak juga dengan keputusan-keputusannya yang semakin jauh dari akar permasalahan, peraturan paling edan sekarang contone masuk sekolah jam setengah 7 pagi, untuk menghindari kemacetan, walah… anak-anak sekolah yang jadi sasaran…, padahal masalahnyakan orang-orang yang tidak membumi itu, naik mobil dari bogor ke senayan untuk kerja, nggak naik baswe ato ka er el, coba rumah mereka dekat sama tempat kerjanya, kan ngirit dan lebih sehat naik sepeda atau jalan kaki…, untung presiden dapet istana sebagai istana dinas, coba kalo brangkat dari rumahnya… walah…
January 14th, 2009 at 22:32
Kita Perlu Pemimpin yang membumi sejak dulu….. dan baru akhirakhir ini bisa “sedikit” terlihat… hanya sayangnya membuminya pas mo pemilu…
January 14th, 2009 at 22:44
kalo bicara soal pemimpin, susah deh, pasti gak ada sempurnyanya, yang paling sempurnya ya Gusti Allah .. he he he
January 15th, 2009 at 00:28
pemimpin yang membumi? hmmm … ungkapan yang menarik, mas totok. negitulah seharusnya sosok seorang pemimpin, tak berdiri di puncak menara gading, tapi bisa manjing ajur-ajer, menyatu dg kawula alit yang biasa tanpa alas kaki. juga tak memosisikan diri sebagai kaum borjuis dan aristokrat yang minta dilayani *halah* semoga makin banyak lahir pemimpin yang bener2 membumi. salam kreatif!
January 15th, 2009 at 05:03
Sek, sek… iki iso dadi semacam preambule (pembukaan) untuk mengantar opini bahwa Ngarso Dalem for President? Hahahahaha… aku melu
Tapi ide bagus itu, aku malah kepikir piye carane ben SBY ndak usah pake sepatu aja biar lebih membumi ?
Nek bojoku senenge nganggo sepatu dhuwur2 ben ora kalah dhuwur karo aku hehehe
Salam dinggo wong-wong nggunung juragan bandwidth yaaaaa
)
January 15th, 2009 at 06:02
sebuah ide yang mungkin sulit realisasinya dimasa sekarang ini bro
namun memang kita merindukan sosok-sosok seperti itu, seorang pemimpin yang membumi dan punya solusi.
atau mungkin sebenarnya mereka banyak, namun tidak terekspose ? entah lah ..
January 15th, 2009 at 14:17
Itulah bedanya pemimpin dan penguasa mas Totok dan pada saat ini kebanyakan penguasa bukan pemimpin sehingga ya beginilah keadaannya
January 15th, 2009 at 23:37
Semoga pemimpin kelak bisa membumi….
Wah Mas Gentho postingan yang bener-bener membangun.. Sebuah analogi yang bagus dan mudah dipahami…
January 16th, 2009 at 03:51
arep komentar wis kedisikan kyai slamet….
January 16th, 2009 at 18:33
beda baget ya Kang antara mBah maridjan dan mbah Mariyudhoyono…hehehe
January 16th, 2009 at 20:42
saya pernah liat profile pemimpin iran saat ini, membumi banget deh mas.
January 16th, 2009 at 23:35
Kalo pemimpin tidak bisa membumi, sebaiknya kita kebumikan saja ramai2…hahahaha
Soal aristokrasi, biarlah kaum2 aristokrat yang enggan bersentuhan dengan kaum jelata tetap disinggasana mereka yang empuk dan bergelimang nikmat, toh semua itu hanya duniawi banget dan apapun yang berurusan dengan duniawi bakal tidak abadi, semoga ada yang sepakat dengan guneman saya ini.
January 16th, 2009 at 23:36
woooo wedhosss…soal membumikan pemimpin wes dienggo komen kyai slamet, wasyuu kedhisikan…siyaall..ngopo mau ra moco komen2 sik aku ya…
January 17th, 2009 at 11:17
Belum bisa saya lihat pemimpin sekarang yang benar2 bisa membumi kang…
January 17th, 2009 at 11:22
semoga akan ada pemimpin seperti itu di negeri ini.
January 17th, 2009 at 17:14
amin. saya ikut meng-amin-i sajah…
January 17th, 2009 at 22:53
wah..
ini bukan menunjuk mbah maridjan jadi penguasa indonesia tho mas
nek ditarik garis lurus antara penguasa merapi dengan penguasa gunung kelir jadi sebuah simbol mistis nggak ya
hihihi
January 17th, 2009 at 23:08
mari kita tunggu kedatangan pemimpin yang membumi
January 18th, 2009 at 06:53
weleh2
dalem banged
hrsnya jadi rujukan syarat2 jadi presiden 2009 nih
slm kenal
January 18th, 2009 at 14:09
raja raja fitness di mana ya? kok pada kuat memangku bumi, negoro dll
January 18th, 2009 at 15:59
semoga bumi masih mau menerima raja2 jaman sekarang..
semoga bumi mau namanya dijadikan satu sama raja-raja..
semoga bumi masih menyayangi kita
Semoga Allah menganugerahi kita “raja yg bener”
January 18th, 2009 at 20:34
E, lhadalah! Sarat filosofi tenan postingan ini, Mas.
Tapi zaman sekarang kok yo angel nggolek pemimpin sing koyok ngono yo…
January 18th, 2009 at 23:11
pemimpine bisa ambles mlebu lemah yo???
January 19th, 2009 at 19:53
Saya baru tahu akan arti nama-nama yang mas sebut diawal posting. Betul tidak ada satupun yang merujuk kepada penguasa, sungguh dalam.
January 19th, 2009 at 19:56
hmm…. mbah maridjan aja deh dijadikan presiden, xiixixix
January 20th, 2009 at 08:13
stuju mas..(*sambil nduga2 arah….)
January 21st, 2009 at 10:21
sip juara hahahaha
January 21st, 2009 at 10:22
hahaha itu bukan jaminan lho hahah saya nggak kampanye kok hhhhhaaaaa
January 21st, 2009 at 10:22
yah begitulah kang
January 21st, 2009 at 10:23
mudah mudahan bakal kita miliki
January 21st, 2009 at 10:23
kapan kapan saja hahaha tunggu sampean ke RI satu
January 21st, 2009 at 10:23
hahaha sekedar analisa saja mas
January 21st, 2009 at 10:24
hahaha kok ke aristokrat hahaha
January 21st, 2009 at 10:24
sama mas mudah mudahan nanti bakal muncul pemimpin yang seperti harapan kita
January 21st, 2009 at 10:24
hahaha mudah mudahan mas
January 21st, 2009 at 10:25
kita doa bersama
January 21st, 2009 at 10:25
kebumikan aja hahaha
January 21st, 2009 at 10:25
hahaha ming analisa ringan kok
January 21st, 2009 at 10:25
sampean ke RI 1 hahaha
January 21st, 2009 at 10:26
nah betul kan mas sangat bersahaja sekali kan mas
January 21st, 2009 at 10:26
hahaha pak dhe Mar bisa aja hahaha
January 21st, 2009 at 10:27
betul pemandangan merakyat dan membumi ketika mau pemilu saja hahaha
January 21st, 2009 at 10:27
hahaha sampean kah itu saya tunggu hahah
January 21st, 2009 at 10:28
kita sama sama berharap mudah mudahan negri kita bagai surga amin
January 21st, 2009 at 10:29
hem betul s ekali kang itu memang yang terjadi mestinya dapat di minimalisir yah
January 21st, 2009 at 10:30
hooh kang membuminya saat mau pemilu dan saat kampanye saja setelahnya nggak tahu tuh sibuk kali hahaha
January 21st, 2009 at 10:30
betul juga mas setuju minimal kita mendekati nggak terlalu jahat gitu
January 21st, 2009 at 10:31
ajur ajer itu mungkin lebih merakyat dan tahu persih yang di butuhkan rakyat kali pak
January 21st, 2009 at 10:32
halah sampean pinter wae ngubungke karo ITU hahaha isin aku hahaha
sajake aku nak jejer sampean ya ketok cendak hahaha
January 21st, 2009 at 10:34
ah ini hanya analisa ringan saya buat patokan saya hahaha dan sekedar saja buat isi blog hahahaha
January 21st, 2009 at 10:34
betul mas sangat berbeda sekali antara memimpin dan menguasai hahaha
January 21st, 2009 at 10:35
terima kasih kang salam kenal untuk njenengan mas
January 21st, 2009 at 10:35
hahaha mosok toh
January 21st, 2009 at 10:36
hahah sampean kok yah aneh aneh mariyudhoyono itu sopo hahaha
January 21st, 2009 at 10:36
yah betul kalo pemimpin adat dan pemimpin ke sukuan banyaknya memang membumi mas
layak untuk belajar mas
January 21st, 2009 at 10:37
hahaha betul sekali analisa sampean mas
January 21st, 2009 at 10:38
saya sendiri hanya mampu melihat untuk pemimpin lingkup kecil saja yang mampu seperti itu hahaha
January 21st, 2009 at 10:38
mudah mudahan mari kita berharap
January 21st, 2009 at 10:38
amin juga dan salam untuk kang mas nya hahaha
January 21st, 2009 at 10:41
halah sampean ancene pinter nghubungkan merapi dengan kelir hahahaha
January 21st, 2009 at 10:41
sip setuju sambil berdoa
January 21st, 2009 at 10:42
hahaha ini sekedar analisa ringan hahaha
January 21st, 2009 at 10:42
ha raja tukang angkat berat hahahaha
January 21st, 2009 at 10:46
amin amin ya robal alamin
January 21st, 2009 at 10:48
hahaha sampean terlalu melebihkan saya cuma menganalisa ringan saja hahaha
January 21st, 2009 at 10:48
ontorejo kui mas hahaha
January 21st, 2009 at 10:49
hahaha mestinya rujukanya memang bukan penguasa hahaha kenyataan nggak tahu
January 21st, 2009 at 10:50
halah sampean aja ke RI 1 yah
January 21st, 2009 at 10:50
halah sampean memang pinter kemana arah saya selalu ketebak hahahaha
January 27th, 2009 at 18:46
Jan, benar-benar maknanya dalam!Moga-moga, sebagai rakyat dikaruniai mata yang “awas”, biar ndak salah pilih pemimpin dan sengsara ratusan tahun.
November 1st, 2010 at 20:00
mudah2 an mbah Maridjan termasuk orang yang Meninggal dalam khusnul khotimah,ditemia semua amal kebikanya, Dan Semoga contoh yang diberikan oleh Mbah Maridjan ditiru oleh pemimpin kita yang masih pada bego itu,