Pariman adalah pemuda yang masih belia, yang hidup dengan lingkungan Kota dengan gensi yang cukup tinggi dan di besarkan dengan lingkungan Kota yang mendidiknya memiliki karakter kesombongan yang melangit.
Hiruk pikuknya orang yang lalu lalang dari semenjak Pariman kanak kanak melatih tanpa sadar membuat si Pariman menjadi lelaki kecil yang acuh dan cuek . teman main, teman sekolah Pariman hingga teman Kuliah juga melengkapi pendidikan moral yang mengarah pada kepongahan.
Pariman hidup di lingkungan kota dengan ketidakmampuan namun memiliki tetangga tetangga yang hidup bergelimang kemewahan yang akhirnya mejadikan Pariman sebagai sosok pemuda gensi yang besar.
Ibarat Katak Dalam Tempurung, Pariman Hidup dan di besarkan di lingkungan yang tidak membuat dia sadar bahwa di luar sana banyak sekali Pariman yang lain yang lebih hebat dan lebih mumpuni dari dirinya.
Pariman yang terkungkung di lingkungan dimana orang luar daerahnya menyebutnya sebagai kota istimewa dalam dunia pendidikan semakin membuat dirinya merasa paling pintar dalam segala hal, tentu saja hal ini membuat pariman congkak dan memiliki kegemaran gurauan dalam melecehkan orang lain, apalagi dengan orang yang memiliki latar belakang hidup di Desa .
Kepongahan Pariman semakin nampak ketika dirinya di nyatakan sebagai pemenang lomba mengarang cerpen yang di selenggarakan oleh salah satu majalah yang sebenarnya juga tidak terlalu terkenal.
Pariman yang menjadi juara sebagai penulis cerpen tersebut tentu saja membuat bangga orang tua sekaligus kawan kawan dekatnya, dalam waktu sekejab Pariman menjadi seorang tokoh terkenal dalam dunia kepenulisan yang tentu saja karena Pariman berhasil memenangkan lomba menulis cerpen tersebut.
Dengan Kepongahan yang luar biasa Pariman menjadi semakin sombong serta semakin mecehkan penulis penulis cerpen yang lain, yang tentu saja tanpa ia sadari tidak sedikit pengarang ataupun penulis cerpen yang lain di lecehkan.
Kesombongan Pariman semakin mejadi jadi lagi setelah Pariman berhasil mengantongi Piala serta Hadiah uang tunai yang lumayan besar menurut nya.
Dengan Besar kepala Pariman muda akhirnya lupa terhadap cerita di balik keberhasilanya sebagai sang juara yang tentu saja melibatkan banyak orang dalam keberhasilanya, dari pencetus ide cerpen, serta banyak lagi teman temannya yang dengan bahu membahu mengumpulkan uang untuk membeli kertas , serta banyak lagi hal yang tak lagi mampu di perinci dalam perjuangannya melahirkan cerpen yang akhirnya menjuarai lomba tersebut.
Pariman yang semakin congkak tersebut akhirnya semakin lupa terhadap Komitmen serta janjinya pada semua teman temannya yang rela menjadi anak buahnya tanpa bayaran.
Namun Pariman lupa bahwa media yang membuat nya menjadi terkenal adalah milik orang lain , dan Pariman ternyata juga sangat bodoh yang tidak menyadari bahwa ide cerpen, serta segalanya terlahir dari semua teman temannya, dan lebih parah lagi tak sedikitpun ia sadari bahwa dalam cerpen tersebut dia sebenarnya hanya menuliskan karya dari teman-temannya , ibarat dalam sebuah buku ia hanya sebagai penulis Epilog yang tentu saja dengan mudah Epilog tersebut bisa di Sobek di halaman terakhirnya dan di ganti penulis yang lain……Tammat lah Pariman
Dalam penghujung doa dari setiap teman temanya yang merasa teraniaya tentu saja membuahkan serentetan doa laknat bagi pariman.
Dalam sebuah tikungan yang tajam Pariman mencoba menyalip tanpa memberi tanda pada teman sejalannya dengan harapan untuk bisa mendahului teman teman yang lain, namun sayang pariman tidak memperhatikan kalo jalan yang pariman lewati adalah jalan milik orang lain, yang tentu saja pariman tidak mengetahui bahwa setelah tikungan di pasang lubang yang panjang dan dalam yang akhirnya membuat Pariman terjungkal dan masuk Jurang.
Potongan tulisan tentang Pariman ini hanyalah sekelumit mengenai pentingnya belajar etika dalam memegang Komitmen serta selalu menghargai terhadap hasil kerja keras orang lain dalam setiap keberhasilan kita.
Dimana lagi atau kemana lagi saya dapat belajar atau mencari pengetahuan tentang Ilmu Moralitas atau pengetahuan tentang mental dan etika……? ini adalah sebuah pertanyaan yang mengusik pikiran beberapa waktu ini.
Menyalip di tikungan mungkin waktu itu tak saya pahami seperti apa kiasan bahasa yang sesungguhnya atau saya hanya membanyangkan valetino rossi yang memiliki kebiasaan menyalip di tikungan saat balapan motornya, rupanya pepatah atau ungkapan tersebut memiliki makna yang berbeda dari kejadian yang sesungguhnya.
Dalam etika kerjasama maupun usaha yang saling mengkaitkan antara pemilik pekerjaan, pengawas pekerjaan serta pelaksana pekerjaan, tentu saja harus dipahami hal ini sebagai salah satu kiat keberhasilan.
Moralitas yang tinggi serta menjaga komitmen adalah salah satu hal yang vital dalam meraih keberhasilan keberhasilan pencapaian target hasil dari usaha.
Namun tidak sedikit orang justru mengesampingkan hal hal ini dalam tujuan tertentu yang sebenarnya bersifat culas dan mendapat keuntungan sesaat, lantas tanpa memperhitungan banyak hal yang rugi akhirnya dengan sangat percaya diri lantas menepuk dada mengklaim semua keberhasilan adalah hasil pencapaiannya dengan sendiri.
Faktor Hoki , Keberuntungan, Kemujuran, dan Keajaiban sebenarnya bukanlah hal yang bisa di besar besarkan tanpa memiliki landasan ketekunan , kesabaran serta kerja keras yang di bantu oleh banyak fihak namun lagi lagi hal ini seringkali tidak di sadari.
Banyak hal lagi yang menggiring kita menjadi Kufur jauh dari kesyukuran bahkan kadang sekedar mengucapkan terima kasih saja mesti tertunda menunggu teguran …….
Mari kita kembali sadari bahwa keberhasilan serta apapun kebendaan yang melekat pada diri kita hanyalah pengakuan kita namun hakikinya kita tidak memilikinya.
ah sudahlah ……..biarkan saja Pariman atau kita akan menolongnya dalam kecelakaan tadi……….?
Popularity: 3% [?]
Tags: belajar, blogger, Desa, donorejo, Kaligesing, Kambing Etawa, kontraktor, kyai, menulis, pengalaman, penulis, purworejo, Sejarah, Sudut pandang

Oktober 17th, 2009 at 02:24
walah kasihan pariman ya mas ( eh pariman itu saudaranya si ….Barimin bukan mas …? )
Reply
Dangstars Reply:
Oktober 18th, 2009 at 21:29
Pariman itu lakinya Buriman.Gan..
kkkkk
Reply
Wandi thok Reply:
Oktober 22nd, 2009 at 09:44
Numpang nampang mas biar boleh nolongin Pariman.
Reply
mantankyai Reply:
Oktober 22nd, 2009 at 14:15
numpang pertamax disik… kekeke
Reply
Oktober 17th, 2009 at 02:58
tidak ubahnya upaya mendaki gunung kesejatian diri, perjuangan dan tetes keringat serta strategi untuk mencapai puncaknya… harus melihat peta dan berlatih navigasi, kemana arah perbukitan, lereng, jurang dan bukit yang terjal. Belum lagi harimau dan cuaca yang kadang berteman sekaligus mengancam…
Hidup memang berat dan panjang, jadi membentuk pribadi diri seakan seorang manusia tahan banting, namun disinilah sebuah jebakan bagi diri pribadi, bahwa kehidupan dan perjuangan nonsense jika dilakukan sendiri tanpa turut campur lingkungan sekitar, yang notabene adalah sumber dan guru kehidupan dan pembangun kesejatian yang tidak bisa di nafikan begitu saja.
Cakep banget tulisane mas
Reply
Oktober 17th, 2009 at 03:06
hemmm, ya ya diriku gathuk mathuk manthuk manthuk
Reply
Oktober 17th, 2009 at 03:26
Semoga adanya peristiwa “itu” Pariman atau siapa saja mendapat hikmah dan belajar menghargai arti solidaritas. Jangankan keberadaan supporter, official, kawan, teamwork atau sahabat dan kerabat, bahkan ekstremnya tak akan pernah ada kemenangan atau juara jika tidak ada peran LAWAN MAIN..
Reply
Oktober 17th, 2009 at 04:19
setuju dengan Mas Antok…apik tulisannya
ya memang banyak orang seperti Pariman…
kalau saya sih… saya biarkan saja
kalau dia minta tolong, baru saya akan tolong ..hihihi
gitu ajah.
Pa kabar mas? Kangen “kampai”an di YM nih
EM
Reply
Oktober 17th, 2009 at 05:36
Banyak orang lengah dan enggan belajar dari banyak kejadian meskipun itu dari dirinya sendiri apalagi memetik hikmah yang bertebaran di sekelilingnya . . . Insya Allah kita selalu menjadi orang yang peka dan empati
Reply
Oktober 17th, 2009 at 06:59
kisah pariman ini akan menjadi babak baru dalam pembelajaran sikap, kesuksesan adalah semu adanya ketika sepasukkan orang-orang, yang baik diminta atau dengan semangat membantu dilupakan begitu saja. Parahnya jika kata-kata lupa menjadi alibi terkuat untuk bahan pembelaan..
semoga ini menjadi pembelajaran bagi kita semua…
postingan kkiiiyyyeeeennnn pollll!!
Reply
jendul Reply:
Oktober 17th, 2009 at 08:04
tumben senoaji komentar serius opo mergo wis arep dadi bapak
Reply
sarasehan Reply:
Oktober 17th, 2009 at 11:50
ho’oh tumben…. nek ngene iki asli Senoaji-ne, tapi nek wes macak Plendhu, opo NGiknguk …ojotakon wes ..jiakakakak!
I lup yu pull….
Reply
plendhus Reply:
Oktober 19th, 2009 at 22:15
asemik!
@senoaji jangan dengarkan kata mereka, lebih baik dengarkan kata hati dan dengkulmu!
nek do nakali senoaji, tak cegati nang ndalan siji2… eh sik ding, adoh, rasido nyegat!
Reply
Oktober 17th, 2009 at 08:51
Si pariman yang pongah & malang tidak menyadari betapa rendahnya kualitas diri…..ehh…ehh…ehh
Salam kenal Mas..
Tukeran link yok…!!
Salam Hangat.
Reply
Oktober 17th, 2009 at 09:17
apik kisahnya mas…
kita tidak bisa menampik bahwa apa yang kita peroleh hari ini sebagian besar adalah andil dari orang-orang sekitar kita. berempati terhadap sekitar merupakan cara paling jitu untuk berterima kasih akan jasa-jasa yang tak kasat mata itu…
maturnuwun mas sudah mengingatkan…
Reply
Oktober 17th, 2009 at 13:26
Tapi kadang Pariman itu dibutuhkan juga Kang. Untuk pembelajaran bagi yang lainnya. Dengan adanya Pariman kita bisa mencontohnya untuk tidak seperti dia. Karena tanpa jadi Pariman, aku tak juga bisa belajar.
Reply
Oktober 17th, 2009 at 14:06
semoga pariman cepat mendapat balasanNya
Reply
Oktober 17th, 2009 at 14:07
lah, komentu mau endi yo?
Reply
Oktober 17th, 2009 at 20:17
Paling penak Pareman, sing maremi dudu dukun pijet tapi Wong Ayu…
Reply
Oktober 17th, 2009 at 20:22
“ndak do pareman di Padang, ado ciek..itu pun durhako samo ibunya.”
jadi ingat dialog yg pernah saya lakonkan ini soal Pareman…padahal yg ditulis Pariman, ya
nice posting…mencerahkan, seperti biasa
Reply
Oktober 17th, 2009 at 21:20
saya berkunjung lagi Kang…barangkali, saya juga pernah jumpa sampean di pwr..hehe..
btw, apakah cerita Pariman kisah nyata???..pariman…nice ^_^
Reply
Oktober 17th, 2009 at 23:18
sang pariman yang masih perlu diajari tentang segala hal dunia
Reply
Oktober 18th, 2009 at 01:11
delima kisah pariman semoga pariman lekas sadar sifat kecongkakan
dan semoga ini jadi pembelajaran hidup pariman
hidup adalah delima pahit dan getir kehidupan kadang manusia memandang orang lain lebih rendah,lebih, buruk,lebih jelek ataupun pandangan pandangan lainnya manusia haruslah ingat akan darinya dan keberadaan orang lain mudah mudahan kita bisa memetik dan menjadi pembelajaran hidup kita semua
Reply
Oktober 18th, 2009 at 12:25
Lama tak jumpa … tolong amalamt Mas … tu buku yang Sampeyan kasih pengantar dah terbit … http://www.webersis.com
Reply
Oktober 18th, 2009 at 12:27
Minta alamat mau kirim buku yang Sampeyan kasih kata pengantar
Reply
Oktober 18th, 2009 at 14:37
Hebat, Bos!
Tulisanmu yang ini dalam betul!
Pemilihan judulnya pun tepat dan enak diucapkan…
Satu pelajaran lagi dari sing mbaurekso Gunung Kelir!
Reply
Oktober 18th, 2009 at 19:31
aku bar maca iki kok hawane arep ngepruki si pariman…
*tulisane sampeyan bikin emosii…. emosiii…*
Reply
Oktober 18th, 2009 at 20:08
Dijalan raya sudah ada aturan, sudah rambu lalu lintas yang mestinya di hormati, terlalu banyak pariman-pariman yang lain di negeri ini. Jalan raya dijadikan arena, eh begitu sudah benar-benar terjun kearena balap malah nggak ada nyali.
Salam.
Reply
Oktober 18th, 2009 at 20:10
Kasihan si Pariman, gara-gara nggak mau mentaati aturan jadi terjungkal. Inilah salah satu contoh jika tidak mau mengikuti aturan yang ada.
Reply
Oktober 18th, 2009 at 21:21
ceritanya bagus mas…
Pariaman…pariaman…
seharusnya dididik dengan baik sehingga tetap taat pada aturan ya mas…tidak asap jita tidak ada api
Reply
Oktober 18th, 2009 at 21:23
Syukur Aja buat Pariman..
Apa yang ditanam itulah yang dipetik…
apa yang diperbuat itulah hasilnya..
Nice info sudah mengingatkan….
Reply
Oktober 18th, 2009 at 21:48
kuwi jenenge ngunduh wohing pakarti…
nek pakartine becik yo panen kabecikan, sak walike, nek pakartine ora apik yo ngono kuwi!
Reply
Oktober 19th, 2009 at 03:25
`keberhasilan serta apapun kebendaan yang melekat pada diri kita hanyalah pengakuan kita namun hakikinya kita tidak memilikinya`
nice story, nice quote, and nice contemplation.
Matur nuwun udah berbagi kang
Reply
Oktober 19th, 2009 at 05:21
apapun yang kita raih, bukan berarti semua atas keberhasilan tangan kita sendiri, orang disekitar, lingkungan sekitar, merupakan aspek yang memiliki konntribusi entah langsung atau tidak langsung. etika akan mengahrgai sesama, tertuama untuk orang2 yg ikut andil, sangatlah di haruskan
Reply
Oktober 19th, 2009 at 10:02
dalem pak…. pariman yang naas, dan apapun yang melekat didiri kita yang sebenarnya bukan milik kita. wis. top markotop.
Reply
Oktober 19th, 2009 at 15:12
siang
kunjungan perdana
wah postingan yg baik
salam hangat sellau
Reply
Oktober 19th, 2009 at 15:22
salamku untuk Pariman…, kasian dia sampai terjungkal…
Reply
Oktober 19th, 2009 at 20:42
doh, kok bisa sampai sejauh itu si pariman memahami dunianya. seorang penulis, sejatinya adalah orang yang memiliki kepekaan terhadap nilai2 kebenaran dan etika. ia tidak bisa melepaskan diri dari tanggung jawab moral sebagai seorang penulis. cerpenis dengan modal ingin cari sensasi, justru akan menjadi bumerang ketika suatu ketika berada di puncak karier. ketika nilai2 keseharian yang dia anut tidak sejalan dengan nilai2 kebenaran yang ia tuangkan dalam teks2 fiksi, maka dia akan segera menghadapi kehancuran setelah publik tahu, siapa dia yang sesungguhnya.
Reply
Oktober 20th, 2009 at 00:54
ternyata keberhasilan dan perubahan diri pada seseorang itu bener-bener dipengaruhi besar oleh lingkungan dan orang lain,
kecil sepertinya perubahan diri yang terjadi dan diingini oleh diri sendiri, entah
Reply
Oktober 20th, 2009 at 04:03
Kapan Pariman ke kota seperti Kabayan?
Reply
Oktober 22nd, 2009 at 08:50
Bagaimanakah kelanjutan kisah Pariman ?
Kita tunggu chapter berikutnya….
kalau ada
Reply
Oktober 22nd, 2009 at 09:48
Sekarang Pariman nyang somse itu paling sudah dijemput malangekat ya mas?
Innaalillaahi wa innaa ilaihi rooji’uuun
Reply
Oktober 22nd, 2009 at 10:11
tadi ketemu Pariman katanya “maaf mbak saya buru buru”
Reply
Oktober 22nd, 2009 at 10:35
Kisah Pariman mengingatkan saya, kata2 Gunawan Mohammad. Penulis itu pencuri, pencuri ide dari apapun. Klw terlalu serakah ia terjungkal, spt Pariman…
Reply
Oktober 22nd, 2009 at 11:31
semoga saya tidak seperti mas pariman
Reply
Oktober 22nd, 2009 at 14:18
wow.. ada tokoh baru: pariman!!!
si pariman ge-er kuwi kang… tapi biasa, anak muda kang. masih butuh banyak belajar… tapi beda lagi kalo keburu masuk jurang.. kakakakaka
Reply
Oktober 22nd, 2009 at 18:16
Pariman ki sopo? ketoke konco ngaret ku ono seng jenenge Pariman.
Reply
Oktober 23rd, 2009 at 22:46
Kalo Pariaman bukan terjungkal lagi mas, tapi lebur (sebagian).
Lama tak jumpa, biasa internet sekarang bagi saya barang mewah.
Reply
Oktober 25th, 2009 at 16:20
Assalaamu’alaikum
Alhamdulillah, dapat berkunjung balas ke laman saudara. Wah… lamannya sudah berubah sama sekali.. Rumah baru ya.. Itu tandanya… sudah lama tidak ke mari. maaf sahabat. mudahan persaudaraan kembali bertaut untuk kongsian ilmu yang bermanfaat. Salam mesra dari Malaysia.
Reply
Oktober 25th, 2009 at 23:54
kasihan pariaman nasibnya kurang beruntung
Reply
Oktober 27th, 2009 at 01:36
Rada ngantuk nih silaturahminya gara2 lelet koneksi jadi gak konsen, mohon maaf komengnya gak nyambung
Reply
Oktober 27th, 2009 at 15:30
pariman tuh yang ada di sawah itu ya.
Reply
Oktober 27th, 2009 at 21:51
smg menjadi pengingat…
agar tidak ada pariman lainnya ya.
Reply
Oktober 30th, 2009 at 16:55
Ehmm….(like)
Reply
Nopember 1st, 2009 at 18:11
Pariaman itu kan yang terkena gempa ya..???
Reply
Februari 2nd, 2010 at 09:37
nunut nongkrong
loro atiiiiiii tenan ki sing rumongso he2
Reply