Dalam rangka memperingati kelahiran RA Kartini gunuungkelir mementaskan seni pedhalangan yang kebetulan di selenggarakan oleh siswa serta organisasi sanggar seni pedhalangan di gunungkelir.

Pagelaran wayang kulit tersebut secara kebetulan dilaksanakan sesaat setelah saya melakukan Akikah untuk anak lelaki saya yang bernama Fathan Maulana Arsy ,dan berkenan hadir juga beberapa teman seperti kang Andy mse , mas Arief_ts mas Asmarie serta yang tak ketinggalan adalah demange Joglo Abang suryaden.

Gelar Budaya Seni Pedhalangan yang di laksanakan pada hari sabtu 21 April 2012 siang dan malam minggu itu juga merupakan pentas perdana bagi tiga siswa seni pedhalangan gunungkelir .

Lakon yang di beberkan siang hari adalah babat alas mertani yang di mainkan oleh ketiga dalang secara bergantian, yang dilanjutkan di malam harinya mengambil lakon Petruk Nagih Janji yang di pentaskan oleh dalang Ki Ngudio yang sekaligus guru di sanggar seni pedhalangan Gunungkelir.

Dalam lakon Petruk nagih janji ini mengisahkan tokoh petruk yang ingin mempersunting dewi ambarwati seperti yang telah di janjikan .

Namun dalam perjalanan nya sang petruk kanthong bolong harus menemui banyak kendala harus berperang dengan beberapa utusan kompetitornya dari pihak raden lesmono dan yang terberat adalah ketika dewi ambarwati mengajukan syarat pada siapapun yang mempersunting nya.

Ketiga syarat  tersebut adalah Jamus kalimosodo Payung tunggul nogo dan Tumbak korowelang yang masing masing pusaka tersebut sebenarnya punya tafsiran makna yang meluas untuk bekal kehidupan

Pada akhirnya sang petruk kanthong bolong galau dan meminta bantuan sang ayah ki Semar bodronoyo untuk meminjam ketiga pusaka tersebut pada pemiliknya yaitu raja di amarta sang pembarep pandawa Raden Puntadewa.

Karena ki semar sebenarnya adalah dewa mangejowantah yang sekaligus dia adalah pamomong Pandawa maka ki semar berhasil meminjam ketiga pusaka tersebut .

Dalam prosesi peminjaman tersebut sebenarnya datang pula Raden Baladewa yang berniat sama namun semua serba kalah , meskipun Prabu Baladewa adalah seorang Raden dan Raja Manduro tetap saja tak mampu mengalahkan ki semar yang memiliki kepandaian mengambil kesempatan terlebih dahulu.

Akhirnya petruk kanthong bolong berhasil menikahi dewi ambarwati setelah membawa ketiga pusaka sebagai syaratnya

Dalam cuplikan lakon ini terlihat bahwa jaringan hubungan kedekatan emosional sangat mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam usahanya .

Terselip pula pesan bahwa dalam kehidupan orang tua selalu saja harus risau ketika anak nya memiliki sebuah cita cita bagaimanapun peran orang tua sangat lah penting dalam keberhasilan anak anaknya .

Bagaimanapun orang tua selalu mendedikasikan semua yang di perbuat adalah usaha untuk memenuhi kebutuhan anak anaknya

Namun jangan salah mengarti lantas orang tua di anggap harus bertanggung jawap penuh terhadap semua kebutuhan kita.

Ada banyak kasus yang mempersalahkan dan membebankan semua tanggung jawab kesenangan kita pada orang tua .

Sebagai contoh saya pernah mendapat keluhan dari seseorang yang sedang mengalami kesulitan dalam membangun rumahnya kemudian dalam keluhanya dia menyampaikan tulisan via sms yang inti nya bahwa bapaknyalah yang harus bertanggung jawab terhadap biaya ini sedangkan bapaknya sudah menjadi kakek kakek , sungguh memilukan hal tersebut menjadi sejarah,lalu saya jawab “bagaimana jika bapakmu sudah meninggal seperti aku.

Meskipun orang tua memiliki tanggung jawab terhadap anak nya namun ketika kita sudah menikah dan sudah memiliki anak mestinya sudah putus batasan kwajiban orang tua kita terhadap diri kita meskipun terkadang masih ada saja bantuan dari orang tua namun itu sudah bukan merupakan kwajiban.

Bahasa anak polah bopo kepradah ( anak punya hasrat baapak yang berusaha memenuhi ) terkadang di salah maknakan yang berkepanjangan betapa malangnya orang tua yang di hujat atau menjadi limpahan kesalahan kesalahan yang dilakukan anaknya dengan alasan bahwa semua ini terjadi karena bapak saya begini begitu, tak jarang pula anak yang tak mendewasa terkadang mendasarkan kesalahan orang tua untuk menghalalkan perbuatannya yang jelas jelas secara norma adalah kegiatan yang salah.

Sepotong tulisan ini semoga membuat saya sadar dan bisa mikul dhuwur mendem jero pada almarhum ayah saya , yang dengan segala cara beliau telah berhasil melahirkan kesyukuran bagi saya dan keluarga kecilku.

24 Responses to “Anak Galau Bapak Risau”

  1. wah welcome back ngeblog lagi ya mas tok…
    kalau di sini usia 20 udah ngga boleh tinggal dan bergantung pada ortu lagi tuh.
    ah, semoga aku maish bisa membahagiakan bapakku selama dia hidup

  2. makasih mbak hehehe yah ini untuk menggugah kembali kreatifitas yang lain kok hehehe di jepang peradapan nya lebih maju

  3. hak joss…
    semoga Fathan bisa keren kaya bapakne, ning ojo melu2 saru #lol #mdrcct

    mantab, pencerahane kang

  4. Adabanyak kasus yang mempersalahkan dan membebankansemua tanggung jawab kesenangan kita
    *suka dengan kalimat ini*

  5. penerjemahan cerita wayang yang luhur dengan penggunaan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh umum, serta pesan-pesan moral yang tidak dapat ditemui pada budaya pop yang menjamur di kalangan masyarakat kini. Ditunggu kisah-kisah menarik penuh pesan lainnya kang 😀

  6. Gara-gara anak, orang tua bisa merana. Karena anak, orang tua bisa berjaya. Maka dari itu, sudah selayaknya kita memberi perhatian yang lebih pada anak-anak kita. Tidak cukup dengan uang dan fasiltas yang bisa kita berikan. Namun perhatian dan kasih sayang yang membuat mereka kuat.
    Sayang aku gak bisa ikutan ngincipi kambing ketawanya mas 😆

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  7. lakonnya sangat menarik dan inspiratif, mas totok. relevan dengan hubungan kontekstual antara anak dan ortu masa kini. dalang2 padepokan gunung kelir makin jos saja nih. sayangnya, saya ndak bisa ikut hadir.

  8. Setubuh.. eh setuju!
    Setelah papaku meninggal aku baru tau benar makna ‘Mikul dhuwur mendhem jero” itu… sebelumnya aku hanya tau “mikul dhuwur, mendhem vodka” :)))

  9. DV nggasruh ah!
    di Gunung Kelir aku malah tidur, nggak nonton wayangnya, hehe

  10. “anak polah bopo kepradah” istilah/paradigma ini seolah udah mendarah daging banget di negeri kita, dan karena itulah “masih” banyak masyarakat kita yang sukanya hanya meminta/diberi saja #doohhhhhhhh

  11. di surabaya ada toko bangunan, anak jaya bapak sejahtera…
    sudah lama nggak nonton wayang ya…

  12. Apakah saya anak yang berbakti? banyak alasan yang mengatakan saya tidak berbakti. halah…

  13. Wayang memang sarat dengan pitutur yang luhur …Salam

  14. Love this… sudah lama banget ngga nonton wayang. terakhir nonton di RBI-Solo pedepokannya mas Blontank. Kebayang lek-lekan nonton wayang sambil ngemil sate kambing.. mak nyuss ^_^

  15. wah jarang-jarang sekarang ada hajatan sunatan atau akekahan nanggap wayang.

    Keren gunungkelir masih ada padepokan yang melestarikan wayang om..!
    Di daerah saya sudah jarang di temukan seseorang yang masih bisa ndalang.

  16. wah, mas totok. nyuwun ngapunten tidak bisa hadir ke nggunung kelir untuk ikut makan daging akikah ya. saya sudah janji untuk ikutan kopdar kbj pada 22 april pagi soale.

    lagipula saya baca sms-nya ki demang sudah malam hari 🙁

  17. Syukran .. banyak ilmu Yang bisa saya petik

  18. waaah…cerita yang menarik ni…,makasih gan..

  19. aku suka judulnya…
    ceritanya juga bagus…

    Di tunggu kunjungan baliknya..

  20. kq ga ngundang 2x yach padahal aku ini suka ma wayang je wadoh ketiwasan ki he he he

  21. waduh waduh itu sama-sama gak baek kalo begitu gan

  22. Peribahasa bahasa jawa ini sepertinya banyak dirasakan oleh hampir orang tua jaman sekarang. Anak2 sekarang meski masih SD keinginnannya sangatlah besar dan mungkin sebagian anak banyak yang meminta sesuatu yang tidak2 pada orang tua seperti hp, motor dan sebagainya

  23. artikel ini membuat kita yang sebagai anak harus lebih bisa berpikir lagi tentang bagaimana susahnya orangtua kita membesarkan kita. iya bukan mas?

  24. Kalau anak galau dan bapak risau, ibunya meracau, keluarga bisa kacau balau…

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>