ini adalah tulisan bagian akhir dari tiga postingan sebelumnya yang secara berurutan melengkapi konten “di antara anak SMA” dengan bagian pertama memiliki Judul postingan “cerita Anak SMA jadi Pengusaha di lanjutkan kisah Sukses Anak SMA” inilah bagian akhir kisah Narman

Narman Menarik Busur Pengusaha

Bagian 3 akhir

Sepulang silaturahmi Narman kemudian makin gelisah dengan polemic masalah yang menimpa kehidupan Narman apalagi sejenak setelah mendengar motivasi dari orang tersebut dengan kata kata yang terngiang “ hanya orang yang berani dan agresip yang akan di hinggapi nasib baik”

Libur lebaran seminggu akhirnya berakhir dan Narman harus kembali ke Jakarta namun pikiran Narman masih tertinggal di kampong halaman nya di tambah terngiang beberapa kalimat yang di sampaikan orang tersebut.

Menarik busur mundur akan mengakibatkan lesatan yang lebih jauh kedepan ,menjadi pengusaha tak harus lari kejakarta, banyak jalan untuk menuju berhasil namun sedikit orang yang tahu dan mau mencari jalan keberhasilan, penggalan penggalan kalimat tersebut selalu menghinggapi pikiran Narman sesampai di Jakarta.

Ketika Narman makin tidak kuat dengan kepasrahan nya kemudian Narman memberanikan diri menghadap HRD untuk mengundurkan diri dari perusahaan ,berbekal contoh yang di lakukan orang yang sudah berhasil Narman membulatkan tekat pulang kampong.

Ada rasa bahagia dan sedih bercampur terpancar dari kedua orang tua Narman setelah Narman kembali ke kampong dan menyampaikan niatnya untuk menekuni beternak kambing etawa.

Orang tua Narman memang tergolong demokratis dan bukan orang tua yang selalu memaksakan kehendaknya pada anak anaknya, meskipun dalam hidup yang sederhana keluarga Narman memang memang keluarga yang berwawasan .

Narman yang sudah di kampong kemudian mendatangi  pak Sugi orang yang selama ini telah membantunya mendapatkan pekerjaan di Jakarta dan orang yang akhirnya memotivasi untuk kembali ke kampong halaman dan beternak kambing.

Narman kemudian mengulas sejarah beternak saat dia masih sekolah sejak SMP dan SMA memberanikan diri untuk menggaduh beberapa ekor kambing milik pak Sugi,kemudian Narman memelihara kambing tersebut.

Setelah menghitung kemampuan dirinya mengurus ternak akhirnya Narman membuat kandang yang agak besar di bantu oleh orang tua dan adik adiknya narman memulai beternak dengan 10 ekor kambing dari gaduhan pak Sugi.

Beberapa bulan Narman melewati dengan beternak kambing dan menjadi pedagang Gula merah di sela sela kesibukan nya mencari rumput, dan karena usaha sampingan menjadi pedagang gula merah makin besar maka Narman juga memberanikan diri untuk meminjam modal pada pak Sugi untuk mengembangkan usaha perdangan Gula merah,

Beberapa bulan kemudian Narman berhasil membeli motor bekas sebagai penopang sarana transportasi dalam usaha nya sebagai pedagang gula sampai genap satu tahun ketemu lebaran Narman sudah tidak menjadi pemudik dan menikmati kesederhanaan sebagai Petani di Kampung Halaman nya.

Narman makin kreatif dan makin rajin dengan usaha Peternakan dan perdagangan gulanya apalagi usahanya mulai menampakan hasilnya setelah kambing kambing yang di peliharanya beranak semua , dengan dukungan pembelajaran yang di berikan oleh pak Sugi akhirnya Narman lahir menjadi pengusaha kecil yang masih bersahaja dan sederhana sebagaimana teladan yang di berikan pak Sugi serta bekal Nasihat nasihat yang di kantonginya.

Dua kali lebaran berlalu hingga lebaran ketiga Narman selalu datang silaturami ke Rumah pak Sugi dan di lebaran yang ketiga Narman di berikan beberapa pertanyaan agar Narman mengitung dan mengaca sejak tiga lebaran di Jakarta sebagai perantau dan membandingkan nya saat tiga lebaran ketika Narman menjadi petani ternak dan pedagang gula.

“ coba man kamu hitung berapa gajimu selama tiga tahun kemudian di potong biaya oprasional di Jakarta kamu punya sisa uang berapa setiap tahun nya ,selama 3 tahun kmu untuk mengkredit motor saja kamu tak mampu “

“bandingkan sejak kamu tiga tahun kamu menjadi peternak yang berawal dari nggaduh kambing saya 5 ekor sekarang berapa banyak kambing yang kamu miliki sekaligus prestasi mu sebagai pedagang gula yang modalnya dari penghasilan ternakmu”

Narman makin hari makin berkembang dengan macam macam pengalaman di bidang peternakan dan perdagangan gula , dan tetap membantu menuntaskan adik adiknya , saat ini Narman juga menjadi supplier kambing penopang usaha peternakan milik pak Sugi.

Narman yang hanya berijazah SMA sekarang sudah berhasil memiliki peternakan dan menjadi pengusaha gula yang telah di topang sarana kendaraan roda empat dalam penopang usahanya, kini Narman sudah Menikah dan di Karuniai anak laki laki yang mudah mudahan kelak menjadi lebih sukses dari Narman, tangis dan tawa Narman junior telah menjadi irama Rumah Narman yang bersebelahan dengan rumah orang tua Narman.

Di Tahun Kelima setelah Narman mengundurkan diri sekarang Narman telah memiliki dua orang operator kandang dan tiga orang yang ikut membantu dalam perdagangan gula merah.

Narman yang berhasil adalah Narman yang di lahirkan dari kesulitan kesulitan dalam hidupnya.

Narman yang berhasil adalah Narman yang berani melepaskan gensinya menjadi perantau di Jakarta.

Kisah Ini melengkapi sebagai orang Ketiga Setelah Kisah Sopian Memotong Jalan dan Agus Anak SMP jadi Pengusaha.

Tags: , , , , , , ,

7 Responses to “di Antara Anak SMA”

  1. Balik and resign dari kerjaan di Jakarta berarti aku juga kudu sowan ke ndaleme Pak Sugi ahh…..
    Pan aku sempet jadi “Anak SMA” juga meski masa SMAku ya masih ingusan
    😛

  2. narman adalah inspirasi bagi kita semua!

  3. mangtaf… kok membuat daku pengen jadi pengusaha ajah ya….

  4. inspiratif penuh motivasi,ditunggu entri berikutnya

  5. joss inspiratip

Trackbacks/Pingbacks

  1. Agus Pengusaha Kambing « Batumarta VI
  2. Pengertian Kawasan Agropolitan « agropolitan bagelen

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>