Desa Wisata Pembangunan Wisata Desa memang sangat menggelitik untuk dikembangkan karena di anggap meningkatkan ekonomi bagi Masyarakat Desa.

Beberapa daerah kemudian maju dengan munculnya Wisata Desa yang dikemas sebagai destinasi para wisatawan, baik yang datang dari luar negeri maupun dari dalam negeri sendiri, konsep yang ditawarkan rata-rata adalah potensi alam yang sejuk, potensi keramahan masyarakat Desa serta produk produk pendukung dari Desa Wisata tersebut.

Salah satu contoh Desa Wisata yang menjadi populer dan menerima anugerah dari  Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf) Dr Sapta Nirwandar pada tahun 2012 yaitu desa Bejiharjo, Kecamatan Karang Mojo Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

Desa wisata Bejiharjo ini memiliki potensi wisata alam yang menarik dan menjadi pemikat wisatawan,

Goa Pindul memiliki sumber air yang menyembul ke permukaan adalah potensi unik menjadi daya tarik, namun selain wisata alam Goa Pindul Desa Bejiharjo juga memiliki kekayaan budaya serta sejarah edukasi,  hal tersebut ditengarai dengan adanya situs purbakala sokoliman, serta budaya wayang beber dengan melihat artefak wayang beber di Desa Bejiharjo.

Desa Wisata Bejiharjo mampu menciptakan lapangan kerja untuk masyarakat Desa Bejiharjo dan sekitarnya, hal tersebut akhirnya mampu mengikis kemiskinan yang ada di masyarakat Desa Bejiharjo dan sekitarnya.

Alam indah asri yang tersaji, kemudian masyarakat yang memiliki atraksi budaya yang kuat memang menjadi sebuah pola Desa Wisata.

desa wisata donorejoBeberapa waktu lalu Pemerintah gencar mengembangkan Desa Wisata dengan memunculkan program PNPM Mandiri Pariwisata, Program tersebut bertujuan meningkatkan serta memaksimalkan potensi wisata desa untuk menanggulangi kemiskinan dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat Pedesaan.

Program PNPM Mandiri Pariwisata terus berkembang di beberapa daerah termasuk  beberapa Desa di Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah.

Desa Donorejo, Desa Kaligono, Desa Tlogoguwo dan beberapa desa lain adalah penerima Program Bantuan PNPM mandiri Pariwisata, yang kemudian terlihat menggeliat secara bersama mengembangkan pariwisata desa.

Desa Donorejo misalnya terlihat beberapa Sumber Daya Alam Goa dan Air terjun di benahi dan ramai dipromosikan menjadi tempat wisata, kelompok sadarwisata berdiri menjamur disetiap dusun, kemudian ramai ramai memasang baliho memamerkan destinasi baru yang bisa dikunjungi.

Pemerintah Desa bersama Dinas Pariwisata terus menggali destinasi baru, potensi alam yang bisa dikunjungi kemudian dipoles dan dipromosikan, solah-olah semua Goa Alam yang ada di Desa Donorejo akan menjadi tempat kunjungan wisata.

Beberapa lokasi sungai yang memiliki pancuran air dibersihkan dan kemudian di buatkan jalan setapak untuk bisa dilewati pengunjung, dibuatkan pokdarwis yang akan mengelola karcis pengunjung serta penunggu penunggu lokasi wisata tersebut.

Selain Goa Seplawan yang memang sudah menjadi lokasi wisata alam dari beberapa tahun silam kemudian muncul beberapa goa lain seperti Goa Tegoguwo, Goa Nguwik yang juga dijadikan tempat wisata.

Beberapa saat tempat tempat wisata alam yang baru tersebut menjadi ramai pengunjung, beberapa anak muda berkegiatan menjadi penunggu penunggu tempat wisata tersebut, sekilas program pariwisata berbasis Wisata Desa tersebut berhasil menjadi kegiatan yang membuka lapangan kerja yang bertujuan mengentaskan kemiskinan masyarakat desa.

Tempat  wisata baru saling berlomba bersolek wajah agar mendapat pengunjung yang banyak, terlihat pada hari Sabtu Minggu serta hari libur para wisatawan terlihat berseliweran di jalanan Desa.

Tak berlangsung lama kemudian curug (air terjun) siklothok di Desa Kaligono menelan korban sepasang muda mudi meninggal ditemukan di salah satu kedung (cerukan air), kemudian disusul dengan hilangnya Pengunjung Taman Wisata Air Sungai Sidandang Kaligono yang kemudian ditemukan sudah meninggal tenggelam, hal tersebut langsung mengurangi jumlah wisatawan yang berkunjung di beberapa wisata alam yang dibuat di Kecamatan Kaligesing.

Namun penduduk seperti belum lelah, masih terus mencari , mempercantik sesuatu di Desa agar menjadi obyek wisata, tidak sedikit terlihat memaksakan sekali seperti membersihkan bukit agar menjadi tempat kunjungan wisata, poster dan baliho terus tercetak sebagai ajang pamer penunjuk tempat wisata hingga tanpa sadar menjadi sampah visual.

Masyarakat seperti digiring secara kaprah dalam menerjemahkan Desa Wisata dengan membuat objek wisata alam yang bisa dikunjungi, Dinas Pariwisata seperti lupa atau tidak memahami makna Desa wisata yang sesungguhnya, mereka hanya berpikir cepat menjadikan sebuah desa menjadi destinasi para wisatawan dengan tempat-tempat sebagai obyek wisatanya.

Tak bertahan lama tempat tempat wisata alam dadakan yang dibuat oleh Pemerintah Desa dan Dinas Pariwisata tersebut menjadi sepi pengunjung, bahkan tidak sedikit tempat wisata baru belum memiliki pengunjung hingga kemudian seperti sebuah pasar yang ditinggalkan pedagangnya.

Kenapa ini bisa terjadi?

Ada pemahaman yang kurang tentang makna  Desa Wisata, mereka lupa atau memang tidak paham tentang konsep Wisata Desa dan kemudian menjadi tersesat tanpa arah yang pasti, unsur yang penting dalam pembangunan desa wisata seperti adanya atraksi, akomodasi  dan tersedianya fasilitas pendukung pada desa wisata menjadi suatu hal yang menarik untuk dikunjungi tidak terangkai dengan baik.

Atraksi yang bermakna kegiatan tradisi dan kebiasaan masyarakat yang bisa dikemas menjadi hal yang menarik sebagai destinasi malah dimaknai keliru dengan memaksakan membuat kelompok sendratari, kelompok budaya yang terkesan memaksa, mereka gagal memahami bahwa di Desa Donorejo memiliki potensi atraksi masyarakat desa sebagai para peternak kambing yang menjadi tradisi turun menurun.

Kegiatan yang dilakukan oleh para peternak sebenarnya sangat berpotensi sekali menjadi daya tarik terbesar wisata edukasi yang dimiliki oleh Desa.

Atraksi yang dilakukan peternak terbukti tetap bertahan menjadi sebuah daya tarik tersendiri bagi orang daerah lain untuk mengunjungi Desa Donorejo, hal tersebut di tengarai dengan masih terus adanya kunjungan ke peternakan milik masyarakat baik dari para Peneliti, Siswa bahkan orang umum yang tergelitik dengan dunia Peternakan, meskipun kegiatan ini luput dari program Desa Wisata besutan Dinas Periwisata Purworejo.

Kambing Kaligesing adalah Plasma Nutfah hasil rekayasa genetik yang dilakukan oleh para peternak pendahulu di Wilayah Kecamatan Kaligesing, hal ini menjadi sesuatu yang menarik dan menjadi potensi yang kuat untuk mengisi konten Desa Wisata.

Kambing Kaligesing yang memiliki keunggulan sebagai penghasil daging, penghasil susu, dan memiliki tubuh yang tinggi besar sering menjadi bahan untuk Hoby Kontes Kecantikan dan Kegagahan Kambing.

Kegiatan para Peternak dalam mengelola ternak juga menjadi daya tarik tersendiri untuk disaksikan, seperti saat peternak memandikan kambing kesayanganya, memerah susu kambing, bercengkerama dengan anak anak kambing yang lucu sebenarnya menjadi daya tarik yang eksotis.

Dengan memupuk tradisi beternak serta meningkatkan sarana prasarana peternakan, meningkatkan fasilitas pendukung lainya akan menjadi modal yang luar biasa untuk menjadikan Desa Donorejo menjadi Desa Wisata yang tangguh dan berfungsi meningkatkan ekonomi desa ,

Pengembangan Konsep yang baik dan benar tidak membuat masyarakat tersesat memiliki ketergantungan terhadap obyek tempat, karena dengan dan tanpa pengunjung ramai tiap hari, para peternak tetap mengupayakan peningkatan ekonomi yang dihasilkan oleh ternak ternaknya.

Integrasi tradisi masyarakat peternak dengan alam yang tersaji, kemudian dikonsepkan terhadap Konservasi Budaya dan Alam adalah modal dasar yang kuat untuk Desa Wisata Donorejo.

Potret rusaknya alam yang terpampang di sekitar obyek wisata dadakan adalah bukti tidak pahamnya Dinas Pariwisata akan pentingnya Konservasi dalam konsep Desa Wisata, Goa tempat kehidupan biota serta kelelawar adalah merupakan sistem kehidupan yang terpola baik akhirnya terancam dengan ramainya pengunjung, kelelawar yang berperan sangat vital terhadap penyerbukan bunga durian terusir karena rumah tinggal mereka dijadikan tempat kunjungan wisata.

Yang terjadi bukan lapangan kerja baru bagi para pemuda Desa namun menyisakan pemalas yang memiliki ketergantungan menjadi penunggu Goa, penunggu Air Terjun yang tidak sepanjang tahun mengalir karena Desa Donorejo sering mengalami kekeringan krisis air di musim kemarau, Pemuda yang biasanya memiliki kegiatan mencari rumput untuk ternaknya kemudian terpola menjadi penunggu bekas aliran Air Terjun.

Sebuah Program yang diluncurkan oleh Pemerintah bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat, namun program tersebut justru berbalik menjadi fungsi merusak mental kesejahteraan masyarakat karena ketidakmampuan fasilitator dalam memahami Program tersebut.

Program berubah menjadi sebuah kegiatan untuk cairnya sebuah anggaran, “yang penting ada kegiatan agar dana bantuan bisa cair” kalimat tersebut sering terdengar saat pelik menyusun konsep, akhirnya memaksakan membuat kegiatan yang sama sekali tidak berperan dalam pengembangan kesejahteraan Masyarakat Desa.

Saya tidak ingin di anggap sebagai generasi penghujat yang hanya mampu mengkritisi program yang diluncurkan Pemerintah, namun saya bersama peternak dan didampingi LIPI terus berusaha secara mandiri untuk mewujudkan konsep Desa Wisata dengan tetap melakukan Konservasi alam,

Bersama membangun mentalitas masyarakat untuk mengentaskan kemiskinan melalui Peternakan dan Desa Wisata,  kami sadar bahwa membangun tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, namun semua rakyat bertanggung jawab terhadap majunya pembangunan Indonesia dan Membuat Desa Wisata bukan hanya berdasar bantuan PNPM Mandiri Pariwisata.

Tags: , , , , , , , ,

2 Responses to “Euforia Sesat Tentang Desa Wisata”

  1. namanya juga euforia sesat, banyak yang tersesat aliyas salah kaprah sehingga menjadi boomerang dalam pengembangan wisata itu sendiri.
    Desa yang belum siap dipaksakan, desa yang sebenarnya sudah siap justru banyak dininabobokkan

  2. Wer nicht dabei war bzw. nicht die Sichtweise beider Seiten kennt, kann sich schnell die Finger verbrennen und ist dann der “Böse”, wenn er sein “Urteil fällt”. Und es liegt in der Natur der Sache, dass die 2nd-Hand-Sachverhaltsdarstellungen “ganz kleine unbedeutende Details” nicht enthalten und man zu einer entsprechenden Beurteilung hingeleitet wird.MeineMeinung.

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>