Di sela sela saya menikmati segelas kopi khas bogor sehabis tarawih sempat mata saya terpaku melihat tulisan di timeline twiter dimana salah satu teman saya membuat hubungan dosa besar dengan rokok.

Dalam perkembangan dunia tehnologi informasi kita terbiasa di bebaskan untuk menuliskan apa saja yang ada dalam benak kita, namun kebebasan dalam berceloteh di jejaring social bukan berarti memperbolehkan kita melepas kaidah berfikir yang sehat dalam bermedia seperti yang kita sebut sebagai berinternetsehat.

Media jejaring social ini memang sangat efektif kita gunakan untuk beriklan, berjualan, belajar, bahkan berkampanye dan menyampaikan sudut pandang.

Kebebasan berekpresi di internet terkadang ditanggapi mentah oleh beberapa kalangan yang tidak dewasa dengan beranggapan sebebas bebasnya dalam kaprahnya bisa di sebut seenak udel dewe (semau maunya sendiri)

Kita bukan berarti anti kritik namun sebenarnya sebagaimana cara mengkritik, jika kritik dilakukan sebagai sebuah tindakan untuk kebaikan, dan kritik bebas dilakukan siapa saja namun bukan berarti menyampaikan kritik tidak menggunakan etika.

Dalam contoh berbeda ketika kita tidak suka terhadap minuman keras kemudian kita marah marah dan berdakwah mengutip ayat ayat Illahi di hadapan orang yang sedang mabuk, yang kita dapati bukan mereka pemabuk lantas sadar dan berhenti minum minuman keras namun sebaliknya botol-botol minuman yang disampingnya dipecahkan untuk memukuli kita.

Kritik yang tidak menggunakan kesantunan dan tidak menggunakan etika tempat tentu saja bisa di kategorikan sebagai sebuah hujatan.

Tidak sedikit orang orang yang tergolong nyinyir sangat gemar mencela perkembangan pembangunan, mencela kinerja pemerintah atau melampiaskan kekecewaan terhadap salah satu kejadian yang menimpa dirinya lantas dengan bebasnya menghakimi perlakuan tersebut di media jejaring social.

Menyikapi masalah umum atau kendala yang terjadi di masyarakat kita sebenarnya banyak cara yang lebih berarti dan tak perlu memproklamirkan diri pada anti sesuatu.

Ambil contoh ketika melihat dan mendengar betapa parahnya polusi udara yang ada di lingkungan kita bukan berarti kita harus melarang siapapun agar tidak melakukan polusi, apa jadinya bila polusi udara disikapi dengan cara melarang berkendaraan melarang masak dengan api dan lain sebagainya,

Meskipun penyebab polusi bisa di sebabkan dari asap kendaraan tetapi bukan berarti kita melarang orang berkendara, tindakan yang bisa kita lakukan adalah mencari solusi dari polusi itu setidaknya kita bisa menanam pohon, atau kampanye penanaman pohon sebagai tindakan yang lebih bijaksana dari pada mencela orang dengan kendaraannya.

Sebagai contoh saya pernah menuliskan global warming vs petani, tindakan yang di lakukan petani ini lebih berarti ketimbang saya melakukan kampanye berlebihan tentang polusi dan pemanasan global.

Boleh kita tidak setuju dengan sesuatu namun bukan berarti kita boleh bebas menghakimi kegiatan tersebut berfikir mencari solusi lebih baik ketimbang kita terlahir sebagai penghujat yang tak menutup kemungkinan dapat menerima tindakan konyol dari beberapa kalangan yang merasa dihakimi.

Apalagi saking tidak sukanya terhadap sesuatu lantas membuat ketentuan sebagai dosa besar.

Alangkah konyolnya ketika kita melihat orang merokok lantas menghakimi perokok tersebut adalah pelaku dosa besar terhadap generasi berikutnya hanya karena merokok sempat dilihat anak kecil.

Banyak kepentingan dalam rokok dan jika disebut kegiatan privasi yang bisa membahayakan lingkungan sama halnya dengan saat kita berkendara karena menyebabkan asap kendaraan terhirup oleh pengendara pasif.

Begitu juga saat kita melihat kekumuhan yang terpampang di lingkungan semestinya tak cukup hanya diceramahi bahkan tak sedikit orang mendosakan pemerintah serta dinas terkait sebagai pemikul hujatan padahal sebenarnya kemajuan dan kebersihan lingkungan adalah tanggungjawab setiap warga.

Lebih baik kita berkampanye ajakan menjaga kebersihan dari pada melahirkan kata kata hujatan pada siapapun dengan ungkapan memuakan menyebalkan.

Generasi penghujat atau pasukan nyinyir ini tanpa sadar juga menjadi penyakit menular pada generasi berikutnya mereka tidak sadar bahwa yang dilakukan itu bukan sebuah kritikan namun hujatan sebagai tindakan nyinyir terhadap sesuatu.

Yang perlu kita harus pelajari adalah mencari solusi dan melakukan kampanye yang santun mengeluarkan kritik yang membangun bukan menghujat atau menghakimi bahkan mengkafirkan sesuatu.

Banyak cara bijak agar bahaya asap rokok bisa diminimalisir dengan smoking area atau kampanye kesehatan yang santun.

Menanam satu pohon lebih berarti daripada kita membuat spanduk global warming begitu juga para petani dusunku mereka lebih mulia menanam pohon dengan harapan periuk nasi terisi tanpa sadar pohon yang mereka tanam menghisap karbon.

Lakukan teladan bagi masyarakat dan sampaikan kritik dengan santun itu lebih bisa diterima banyak orang daripada mencaci dan menghujat yang akhirnya melahirkan anda sebagai generai penghujat.

Mari gunakan fasilitas sosial media dan keunggulan tehnologi informasi dengan baik dan sehat dan dengan contoh dan kegiatan yang positif berikan penjelasan yang bijaksana dalam melakukan kampanye sesuatu diinternet dan sebagaimana kita memanfaatkan internet dengan baik sebagai internet yang sehat.

Tags: , , , , , , , , ,

12 Responses to “InternetSehat vs Generasi Penghujat”

  1. Nyinyir itu berkonotasi negatif. Namun jika sebuah kritik atau hujatan atas hal yang tidak benar dianggap sebagai hal nyinyir, pihak yang dikritik perlu berkaca diri. Bagi saya, kritik dan hujatan yang diulang-ulang karena tidak ada perubahan ke arah perbaikan dari pihak yang dikritik perlu terus dilakukan meski dianggap sebagai laskar nyinyir. Jika orang yang berbeda pendapat disebut laskar nyinyir maka semua orang adalah laskar nyinyir bagi orang lain yang berpendapat tidak sama. Pasti ada orang yang berbeda pendapat dengan kita, kan? :mrgreen:

    Salam persahablogan,
    @wkf2010

  2. Aku termasuk salah satu yg suka nyinyir, salah satu yg suka menghujat hahahahahhaha. Pukulan telak berarti postingan ini ke aku.

    Memang generasi skrg termasuk aku sendiri aneh, lebih bangga dengan peringkat trending topik daripada diam dan berbuat.

    Makanya skrg lagi mengusahakan sedikit bicara tapi banyak berbuat

  3. Nyatakan saja, apa yg terasa. Walau pahit biasanya.
    Jangan dibsimpan, jangan dipendam. Merdekakan jiwa. Setuju dg mas GK dan kang WKF, tinggal kita bisa membedakan, mana kritik dan mana hujatan.
    Memang lebih baik jika pakai qaulan kariman 🙂

    Aku minta tulisan petani di atas ya! Buat linihijau.com

  4. Nyinyir atau tidak tergantung dari mana melihatnya.

  5. sepasukan kritik hahaha jika kritik dengan santun dan memberikan contoh itu adalah bentuk cinta kalian bertiga padaku tapi mengkafirkan aku dan menyebut sebagai Dosa Besar itu hujatan hahaha terima kasih

  6. Sebagai anak sma, saya masih cupu dan tak pantas bersanding bermewah-mewah dalam tutur kata.

    Maafkeun anak muda ini pada tetua-tetua yang saya hormati dan patuhi nasihat-nasihat liarnya.

    Terima kasih…

    *demonstrasi besar-besaran mengerahkan anak SMA untuk menurunkan foto cabul di atas*
    hahahahahahahahaha

  7. asem… nganjurke nandur uwit, ning pungkrukmu kok mbok tanduri tower??? piye jal ki?
    (btw, suwun sumbangane, manfaat banget, ning saiki wes entek… njaluk maneh entuk pora?) wkwkwk

  8. karya nyata tentunya lebih efektif dalam menyelesaikan segala kekurangan.
    Hidup gunung kelir!

  9. Gampang kok membatasi perokok. Semakin banyak tempat yang gak welcome sama mereka pasti mereka juga gak nyaman. Jangan sediakan asbak di dalam rumah, biasanya tamunya tahu diri. 🙂

  10. Dalam tubuh ‘internetsehat’ sendiri apa sudah tak ada oknum yang menghujat? 🙂

  11. Hahaha…Mang Betul Juga Mas…
    Tapi Kadang Watak Seseorang Beribu Variasi..
    Antara Yg Berpendapat dgn Yg Menanggapi..
    Antara Yg Menasehati dgn yg dinasehati..
    Antara Yg Menyendir dgn yg disindir….
    Dan Yang Jelas Sampai kapanpun Kebaikan Pasti Akan menemukan Jalannya Sendiri….Makanya Jgn Putus asa untuk slalu mengumandangkan Kebaikan terus menerus..

Trackbacks/Pingbacks

  1. kopi khas bogor simbol persahabatan | Gunungkelir

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>