Jika mengingat proses panjang kehidupan pribadi saya kadang membuat saya selalu bersyukur atas semua yang telah di lalui, masa kanak kanak di dalam bimbingan ayah dan ibu serta lingkungan ternyata membangun karakter yang unik dalam menghadapi banyak hal.

Terkenang Almarhum ayah saya yang selalu memberi petuah jawa jika sedang menghadapi keadaan entah suka atau duka terbiasa mengeluarkan pepatah jawa atau menyampaikan nasihat dengan di dasari pepatah

Contoh yang sering terucap dari almarhum adalah eling mulo buko ( ingatlah asal muasal ) yang biasa di sambung dengan eling tembe mburi ne ( ingat pada akhirnya ) Sepintas hanya beberapa kalimat namun jika ayah saya sedang menjabarkan bisa sepertiga malam membahasnya .

Masa kecil saya bukan sebuah masa yang serba enak dan keturutan setiap keinginan nya namun justru selalu di sudutkan dalam keterbatasan yang ternyata adalah scenario, saya kembali ingat ketika kenaikan kelas 5 SD saya pernah memiliki keinginan untuk di belikan sepeda onthel dan tak kesampaian karena ayah almarhum memberi jawaban bahwa tidak memiliki uang untuk membelikan nya .

Waktu itu saya pernah protes jika alasan ayah tak memiliki uang sedang tetangga saya yang sekedar petani saja mampu membelikan sepeda untuk anaknya padahal ayah saya jelas seorang pendidik yang memiliki gaji bulanan , tapi tetap saja saya tak di belikan sepeda itu

bahkan saat saya akan mengikuti ujian  SLTA saya pernah mengancam almarhum ayah saya kalau saya tidak akan mengikuti ujian sekolah apabila saya tak di belikan sepeda motor tapi alangkah kagetnya saat saya mendengar almarhum ayah saya menjawab ancaman saya dengan beberapa kalimat santai dan mendalam ” lho kan sekolah lan ujian iku lak kebutuhan mu nek kowe ra melu ujian lak sing rugi dudu bapak ” ( lho sekolah kan kebutuhan mu kalau kamu nggak ikut ujian sekolah kan bukan bapak yang rugi ) tentu saja saya hanya bisa kecut mendengar jawaban tersebut ,

Begitu juga saat saya sudah kuliah saya juga kepengen di belikan sepeda motor dengan alasan agar lebih leluasa bisa kesana kemari namun ayah saya menjawabnya ” tentu kamu akan bangga jika nanti kamu bisa naik motor karena kamu beli sendiri “

Lingkungan tempat saya lahir dan di besarkan sampai menjelang SLTA memang bukan asli tempat kelahiran ayah dan ibuku hingga tak memiliki kerabat dekat di lingkungan tersebut, hubungan kekerabatan di kampung memang terkadang sangat berpengaruh dalam pergaulan masa kecil , akhirnya saya terkadang teritimidasi oleh kawan kawan kecil saya.

Tak jarang akhirnya saya memilih bermain dengan adik adik kandung saya dari pada harus berantem atau di perlakukan tidak adil oleh kawan kawan masa kecil saya karena mereka rata rata saling bersaudara.

Saat saya berkelahi dan silang pendapat dengan teman sebaya sering sekali saya harus di paksa mengalah oleh ayah saya meskipun saya ngotot atas kebenaran tindakan yang saya lakukan.

Sampai menjelang dewasa saya tetap terbiasa bermain dengan adik adik kandung saya karena di lingkungan merasa di intimidasi atau terasa di perlakukan tidak adil hingga pernah keluar pepatah yang terngiang menghibur saya saat saya merasa sakit hati karena kebenaran saya dalam bertindak  di anggap salah

“ jalmo kui tan keno kiniro “ ngalah luwih luhur bebudine , menang kalah kui dudu sak iki mangsane lan dudu ngene carane.

( manusia itu tak bisa di tebak atau di jengkali , mengalah itu lebih utama menang, kalah bukan sekarang saatnya , dan bukan dengan cara seperti ini )

Tanpa sengaja hal tersebut menyisakan dendam yang berkepanjangan walaupun hanya di management dengan baik hinga cara mengalahkan nya bukan dengan berkelahi atau kekerasan namun lebih pada prestasi.

Latar belakang kehidupan almarhum ayah saya juga terdidik dalam lingkungan keluarga yang diskriminatif karena beliau hidup dan dibesarkan sebagai anak tiri,  yang tentu saja hal tersebut membuat karakter almarhum ayah saya juga cenderung banyak mengalah dan terpenjara keinginan nya ( ayah saya adalah anak pertama dari ibu istri pertama kakek saya )

Perjalanan kehidupan ayah saya yang terdukung keadaan menjadikan komunikasi keluarga antara ayah saya dengan kakek saya serta saudara saudaranya nyaris terputus, saya sendiri terkadang merasa asing terhadap kakek  dari keluarga ayah saya.

Saya nyaris tak mengenali kasih sayang dari kakek saya maupun saudara dari ayah saya hal itu melengkapi dendam serta ambisi saya menjadi kental dan mengkristal.

Ayah saya mungkin tak bermaksud mengajari saya untuk mendendam namun hanya kebetulan saja hal itu lahir melalui proses yang panjang karena setiap pertanyaan hatiku tak pernah terjawab.

Hingga almarhum menutup usia aku tetap tak melihat wujud kasih sayang serta tali silaturahmi yang tulus dari saudara ayah saya, yang terlihat oleh saya justru ke angkuhan serta kesombongan.

tidak sedikitpun ada pada mereka yang terbilang sebagai orang yang lebih dewasa kemampuan memberi tauladan dalam kehidupan bersaudara, akhirnya yang ada pada benak saya mereka menjadi tak berharga karena kepribadianya terasa rapuh dan tak memiliki karakter .

Jalmo tan keno kiniro ( manusia tak bisa di tebak ) sekali lagi bahasa itu terdengar bagi saya seperti sebuah penghibur dan penyemangat saat menghadapi keadaan sulit dan sempit saat itu , kalimat itu juga terngiang saat saya mencoba mengeluh terhadap salah satu paman , ketika saya mendapat kesulitan pada waktu mau menikah , dalam keadaan itu aku sudah mencoba menganggap dia sebagai penganti almarhum ayah,

Namun apa yang terjadi sungguh di luar dugaan saya ternyata paman saya tak mampu menjawab kegundahan saya ,

Bukan materi saja sebenarnya yang menjadi alasan namun lebih pada hargadiri yang tak mampu terbeli oleh uang 500 ribu kala itu.

Petuah serta kajadian masa lalu  membuat saya juga mendendam dalam arti yang positif untuk mewujudkan kata kata almarhum menjadi kenyataan bahwa akan lebih bangga jikala aku sendiri mampu membeli kesenangan itu oleh aku sendiri bukan oleh siapa siapa

Waktu itu almarhum selalu bilang alangkah bangganya jika saya mampu memenuhi keinginan saya sendiri oleh keringat sendiri .

ayah hanya bisa membekali kamu huruf namun kamu sendiri yang bisa merangkai huruf itu sendiri hinga menjadi kalimat

Aku terlahir sebagai anak yang terpola oleh kentalnya pendidikan almarhum ayah saya yang selalu menekankan agar aku bisa menjaga silaturahmi yang baik dengan adik adik ku, meski dia tak mampu melakukan hal itu dengan adik adiknya tapi aku menyadari semua terjadi karena pola pendidikan serta keadaan yang mencetaknya, sebab menurut ayah kekayaan yang tak mudah di tiru adalah kekayaan hubungan kekeluargaan.

Aku sangat menyadari bahwa kesyukuran atas kesuksesan hari ini adalah dedikasi almarhum ayah saya dan beliau adalah penanam yang baik bagi anak anaknya, meskipun beliau tak sempat melihat anak anaknya memanen hasil tanamanya.

Beberapa tahun terakhir ini aku telah mampu mewujudkan sebagian cita cita almarhum dan telah pula menyusun huruf menjadi kalimat meskipun belum menjadi paragraph karena aku juga akan menyisakan potongan kalimat kalimat ini untuk anak anak ku

Jangan pernah menjengkali kemampuan seseorang karena manusia tak bisa di tebak

” ayah hanya bisa membekali saya huruf namun aku sendiri yang harus merangkai huruf itu menjadi kalimat
dan aku akan meninggalkan potongan kalimat agar anak anakku mampu menjadikan paragraf “

Tags: belajar, blogger, gentho, Gunung Kelir, guru, jalan, kontraktor, menulis, pedalaman, penulis, Sejarah, Sudut pandang, Suzuki modif, teladan

16 Responses to “Jalmo tan keno kiniro”

  1. hidup adalah hutan ilmu pengetahuan yang maha luas dan siapapun harus berjuang untuk dan demi diri dan apa yang ditempatinya

  2. ra onok pelajaran kui nang sekolahan, pelajaran kui hanya bisa didapat dengan menjalani hidup. Beliau sudah menjadi guru kehidupan.

    rasane pingin munggah gunungkelir maneh, ngopi + mangan gembel

  3. he eh

  4. marem tenaaaannn…

  5. Jalmo tan keno kiniro ….. (menjura)

  6. Wah, suka dengan penggalan paragraf terakhirmu, Mas Tok!
    Pakabar? Semoga sihat selalu!

  7. wedyan… sangar!

    *fotone yahud*

  8. orang sudah berada jauh didepan kadang sudah tidak berpikir darimana dulu dari belakangnya
    kan sudah sibuk dengan dunia” depannya

  9. Angkat topi buat rasa syukurnya yang senantiasa tertanam sejak dulu.
    Alhamdulillah dapet pengetahuan; “jalmo kui tan keno kiniro” manusia itu tak bisa ditebak atau dijengkali iku artine yo mas?
    Matur nuwun sanget :-D

  10. mending sampian sek di tadirne berkesempatan kuliah brang mas..!! sedangkan aku SD wae gak lulus..!!

  11. kok ngenes kisae bozzz

  12. Perjalanan hidup yang “cadas” akhirnya akan melahirkan pemikiran-pemikiran dan orang-orang yang “cadas” pula untuk kembali membangun daerahnya yang seringkali terisolir dari segala bentuk modernisasi dan globalisasi teknologi.

    Kalau bukan kita ‘putra/i daerah’ yang membuka, membangun, dan mengurai keterbelakangan itu siapa lagi?

    _Salam Gunung Kelir_

  13. Oke mas Tok,….saya salut kepribadian mas Tok,…. salam antar keluarga dari Jogja..

  14. kok hampir sama dengan kisah hidup saya. membaca tulisan ini jadi inget petuah yg bunyinya “jeroning segoro isih bisa di ukur, nanging jeroning ati ora bisa diukur.

    kalimat2 itulah yang menyemangati saya untuk terus belajar memapaki hidup, karena saya yakin bahwa jangka dan waktu itu berjalan atas kersaning Allah SWT.

    Makasih mas buat tulisannya, semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT :)

  15. anteb tenan ki mas. josss!

  16. hidup itu sebuah jalanpendek yang banyak berliku….

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>