Seharian penuh saya tidak keluar rumah karena dua hari ini hujan mengguyur gunungkelir dan sekitarnya menjelang sore hari tadi hujan mendera dengan di iringi petir yang menyambar nyambar.

Ada beberapa berita tanah longsor di sekitar desa Donorejo dimana saya tinggal namun tak menimbulkan korban jiwa hanya saja ada satu rumah yang sempat terendam satu meter oleh gugusan tanah.

Setelah malam baru saya keluar sesat untuk mencari rokok ke warung desa lumayan kaget ketika mendapati jalanan yang sangat gelap gulita , terasa sekali berada di atas gunung dan di pelosok kampung yang jauh dari kota karena tak satupun rumah yang saya lalui menyalakan lampu.

Sesampai di warung tempat saya akan membeli rokok sempat terjadi sedikit obrolan tentang kenapa listrik di daerah kami mati ” rupanya karena salah satu tiang listrik yang mengarah ke kecamatan ada yang roboh terkena tanah longsor “dalam benak saya kalau sudah masalahnya adalah tiang yang roboh biasanya menghabiskan waktu berhari hari untuk memperbaikinya.

Nampak sekali ketergantungan masyarakat dan warga yang memiliki usaha tertentu nyaris lumpuh dan tidak bisa berproduksi di rumah karena alat alat yang mereka pakai menggunakan listrik semisal tukang kerajinan kayu yang biasa membuat mebeler dengan bantuan alat kerja listrik.

Mati lampu membuat saya ingat mengenai konsep listrik mandiri yang pernah di lontarkan kawan cendekia yang memiliki beberapa riset mengenai produksi listrik untuk rumahan hanya saja memang konsep tersebut memang membutuhkan biaya awal investasi yang lumayan untuk setiap satu alatnya dan itu pun juga belum teruji dalam hitungan jangka panjang apalagi untuk di produksi agar di nikmati oleh semua masyarakat yah walaupun mungkin tidak secara total lepas dari PLN namun mungkin memang bisa mengurangi kebutuhan daya pemakaian.

Ketergantungan serta kecenderungan kita untuk konsumtif memangtak bisa di bendung saya mengingat betul ketika jaman saya kecil dahulu hanya menggunakan dua lampu teplok (lampu minyak) dalam satu rumah yah untuk belajar di malam hari ataupun untuk menerangi satu rumah waktu itu terasa sangat terang dan terbiasa sekali.

Lain dulu lain sekarang bagi saya ketergantungan terhadap lampu ternyata sangat besar karena rumah saya jadi kelihatan seperti rumah hantu jikala tanpa penerangan lampu apalagi untuk melongok kehalaman menjadi sangat menyeramkan jika tanpa outdor lighting karena listrik padam.

satu hal yang unik ketika daerah saya mati listrik kemudian rumah saya menjadi rame karena banyak tetangga yang berdatangan untuk nge cas (charge)  hp karena nyaris semua tetangga kehabisan batre sebegitu besar ketergantungan kita terhadap PLN.

Yah saya memang beruntung karena lokasi tanah saya di dirikan BTS (base Transmisi Station) yang tak boleh mati lampu dalam hitungan detik karena untuk Big Bound selular link jawa selatan dari situlah saya hampir tidak pernah mengalami mati lampu yang berdurasi panjang karena di lima tower yang berdiri masing masing memiliki backup genset berkisar antara 25 kva, hal itu juga yang menguntungkan ketika saya membangun rilay untuk ISP (Internet Service Provider ) karena ISP juga tak boleh mati listrik .

Tentu sangat sedih ketika kita memiliki banyak aktifitas yang bergantung terhadap PLN sementara sangat sering sekali PLN mati bahkan sampai berhari hari kalau di daerah pedesaan .

Atau sebenarnya hanya kita saja yang tercipta atas ketergantungan tersebut tanpa menyiasati atau mencari solusi untuk melepaskan ketergantungan terhadap PLN dalam artian berbeda saya membayangkan seandainya setiap desa mampu membangun listrik mandiri entah itu dari kincir angin atau bahkan tehnologi yang lain mungkin kita tak lagi bergantung pada PLN yang di garis oleh kebijakan tertentu.

Atau jika masing masing keluarga memiliki pembangkit listrik sendiri sekelas tenaga surya (panel surya) mungkin tak akan mengalami mati lampu yang berarti tak mengalami mati aktifitas tanpa listrik.

Ah tapi mungkin ini masih mimpi saya saja yang entah akan menjadi nyata atau tidak yang penting saat ini rumah saya hampir tak akan mati lampu atau mati listrik dengan durasi yang panjan.

Kalau saya ingin menikmati mati lampu tinggal melongok ke tetangga yang gelap gulita karena jauh jauh letak rumah saya dengan tetangga seandainya dekat mereka tentu juga menikmati terangnya lampu rumahku.

Selamat menikmati mati lampu

22 Responses to “Mati Lampu”

  1. saya juga pernah membayangkan bagaimana klo memanfaatkan petir sebagai tenaga listrik,, bisakah itu?

  2. nah itu memang idea yang bagus cuman aku juga bingung nek musim kemarau trus piye mas (lmao)

  3. ketergantungan dan konsumtif memang sudah diset sejak awal, agar nantinya bisa dinaikan setiap tahun pendapatan dari investasinya, haha… namun bagaimana untuk menumbuhkan rasa mandiri, karena bagaimanapun kemandirian adalah solusi agar tidak mudah rontok dalam persaingan dan kompetisi yang rasa-rasanya sudah semakin tidak fair saja ini…

  4. itulah jika kita menjadi rakyat yang merdeka tentu saja akan membangun kemerdekaan serta kemandirian yang tanpa melepas koridor yang telah di tetapkan (enak mas)
    sampean melu kompetisi opo mas kok ra sehat atau jangan jangan karena domain belum berusia empat tahun

  5. dadi ingat khucluk ngitung pas kemaren mati lampu, 11 detik padam trus nyala lagi

  6. yah durasi yang boleh di hitung wajar adalah di bawah 20 detik mas untuk ATS dan AMF bekerja
    Automatic Transfer Switch mengalihkan dari kematian PLN ke backup genset

  7. Ebuseeettttt selain konekis gila2an bul listrike jg to… Ckckckckck (money)

  8. Sekali mati 4 jam!

  9. Idem dengan Mr. Glugu.
    Enak pol nggone sampeyan mas Totok.. *ngiler*

  10. ternyata penyakit mati lampu by pln sampe sekarang belum jg bisa selesai, buktinya di tempat ane masih aja ada pemadaman lampu

  11. Lha mbok bati dari ISP-ISP itu dibikin PLT Tenaga Surya tho, Mas Tok 🙂

  12. mungkin perlu dicari alternatif pengganti auto switch dari sumber utama misal solar cell plus aki plus generator plus converter dengan begitu cita2 ISP di kampung akan tercapai, bisnis tetap jalan 😀 cuma sebarapa lama nya yang tidak kita tahu.

  13. Tetap semangat walau pun mati lampu. Dengan mati lampu ini pikiran kita jadi hidup untuk berpikir dan berusaha untuk mencari solosinya.
    Supaya usaha kita tetap hidup.

  14. horee kemaren seharian mati lampu !!

  15. mati lampu wedew ampun deh salam hangat dari pantai selatan moga masih ingat ma aku

  16. mungkin mati kunang kunang 🙂

  17. salam kenal,,, kunjungan balik ditunggu

  18. di jakata yang ngak ada tiang listrik tumbang aja sering mati lampu koq om..!
    (doh)

  19. andai saja di negeri ini tidak ada PLN, maka pasti setiap penghuni negeri ini akan cari cara untuk menerangi rumahnya, dan tak akan ada ketergantungan haks 🙁

  20. wah mesake tenan wong pln pasti mikir piye carane supoyo ora mati lampu, tapi piye yen tiang kena longsor jenenge bencana, alam ora biso dilawan tapi piye kito bisa bersahabat karo alam, surya srengenge melimpah, listrik mini hidro bendung kali cedak ngomah sing nang gunung, yen mikir meneh ning kono jayapura puncak wijaya pln arep mbankitke listrik perlu ngangkut solar pakai pesawat ber ton ton kilo liter di dunia manapun pesawat gak boleh bawa cairan eh iki aneh tiap hari ngangkut solar supaya rakyat jaya wijaya nikmati listrik sing regane ora sumbut karo biaya angkut lan harga solar listik murah, yo piye meneh tarif listrik ono UU ora biso sak enake dewe. he he he

  21. salam kenal mas, artikelnya banyak dan bagus-bagus

  22. Setuju bos bangun Pembangkit listrik tenaga biologi,dari kacang kambing etawa.Mungkin bisa bwt hidupin Genset.

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>