Aku sedang  membangun kembali tata letak yang tak pantas dan menjadi sebuah kendala yang secara tanpa sengaja tercipta dengan kesadaran akan kesempurnaan.

Sebuah bangunan yang telah kokoh pondasinya namun tak memiliki petakan dan tatanan atas fungsi yang baik, ibarat memiliki pintu pintu yang saling berhadapan hingga memungkinkan orang bertabrakan saat melalui pintu pintu tersebut.

Memindahkan letak dan fungsi pintu secara tidak langsung menemukan beberapa bagian bangunan yang keropos menjadi sarang rayap.

Mengalihkan fungsi ruangan menata berdasar kebutuhan dan membenahi kelengkapan fungsi kemudian menambahkan beberapa barang untuk meningkatkan kegunaan ruangan dalam sebuah bangunan.

Aku sedang tidak membangun rumah yang baru namun hanya sedang membenahi dan membuat rumah lama menjadi seperti apa yang selayaknya berfungsi.

Rumah yang sekarang ada memang tidak rusak dan tak roboh, sebenarnya telah memiliki pondasi dan dinding yang kokoh serta memiliki atap yang bagus, bahkan telah mengalami perubahan yang lebih menarik ketimbang bentuk awal rumah ini.

Rumah ini juga sudah nampak megah dari luar dan mengalami penambahan luas bangunan serta sudah dipercantik dengan aneka bentuk finishing diding luar dan nampak indah dari teras hingga ruang tamu.

Tak banyak orang yang tahu bahwa rumah ini masih sekedar tempat bernaung dan sebatas tempat berteduh selayaknya, tak banyak juga yang mencela rumah ini karena terdiri dari ruang ruang yang tidak berfungsi semestinya.

Aku penghuni rumah ini juga sangat menyadari keterbatasan yang ada dalam rumah ini hingga terkadang aku harus rela keluar rumah untuk mandi dan mencuci apapun diluar rumah, karena rumah ini tak memiliki kamar mandi di dalam nya.

Terkadang aku bekerja di tempat tidur, kadang tidur di ruang tamu, kadang makan di dapur bahkan terkadang harus memasak di kamar tidur, semua ini terjadi karena tidak tertata dan tak memiliki fungsi yang jelas pada setiap ruangan yang ada dalam rumah ini.

Bukan rusak atau bukan tidak ada aku yakini bahwa ini hanya butuh sentuhan pembenahan agar sedikit tertata menurut kaidah sebuah rumah.

Isi yang ada di dalam rumah sebagian adalah privasi dan hanya boleh di ketahui pada orang tertentu sebagian boleh di ketahui atau kenampakan oleh orang selain penghuni, namun rumahku terkadang harus terlihat oleh orang luar karena rumah tersebut tidak memiliki batasan yang jelas antara area publik dan privasi.

Aku tidak sedang ingin memiliki rumah baru dengan fasilitas yang tersedia seperti yang saya butuhkan, namun aku sedang ingin mengubah rumah yang sudah ada menjadi rumah yang sesuai, sebagai bentuk rasa syukur terhadap apa yang sang pencipta berikan.

Aku bukan sedang tidak puas dengan keadaan namun aku justru sedang menikmati dan menterjemahkan rasa syukur atas bangunan yang ada dengan cara merawat dan melengkapi bangunan yang sudah ada agar lebih berarti secara fungsi dan kaidah bangunan rumah.

Aku sedang menterjemahkan kata “ngreksa” ateges ngupakara barang sing wis ana supaya luwih  guna.(merawat serta merekayasa dan melengkapi agar barang yang sudah ada menjadi lebih bermanfaat sesuai dan berguna)

Aku sedang tidak ingin “yasa” ateges nganakake barang sing anyar (membeli atau membangun baru).

Sebenarnya bukan tidak mungkin bagi setiap kita atau aku yang lain untuk membangun baru atau membeli sesuatu yang baru seibarat membeli kendaraan yang baru, yang lebih bagus bentuk serta memiliki banyak fitur tehnologi yang di butuhkan bagi kenyamanan berkendaraan, begitu juga semudah membangun rumah baru atau lebih simpel lagi membeli rumah baru yang memiliki fungsi serta fasilitas yang kita butuhkan, begitulah pepatah jawa mengatakan “luwih rekasa ngreksa tinimbang yasa” (lebih susah merawat dari pada membeli)

Tulisan ini hanya relaksasi dan pengembaraan pikiran sebagai pengingat saya sendiri agar bersyukur pada sebentuk cinta kasih sayang yang telah Allah SWT berikan dalam kehidupanku.

Tags: , , , , , , , , , ,

4 Responses to “Merawat bentuk cinta”

  1. Nice Kang…
    Setidaknya akupun turut bersyukur bakal bisa menikmatinya untuk numpang berteduh saat satu saat nanti “dolan” n ngangsu kaweruh terhadap panjenengan..

    Nuwun…

    *Auu ya durung isa tumbas apa-apa jee… Sampean sing wis isa yasa apa-apa malah isa ngalembana ta kuwi….

  2. Terima kasih tulisan konteplatif ini. Aku jadi tahu makna ‘ngreksa’ dan ‘yasa’ sekarang. Dan tulisan ini adalah obat kangen dari para penggemarmu. 😉

    Salam persahablogan,
    @wkf2010

  3. Asslamkm, gaya bahasanya kok apik temen kang ?

  4. Bersyukur memang menjadi hal yang utama, menerima apa yang diberikan tuhan walau belum sesuai keinginan kita

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>