Warok gunungkelirSabtu 30 November 2013 Joglo Abang Yogyakarta menggelar peresmian Rumah Budaya Joglo Abang yang bertepatan dengan perhelatan Kopdar Blogger Nusantara 2013 (BN2013).

Joglo Abang yang terletak di Gombang Tirtoadi Kabupaten Sleman ini diresmikan menjadi Rumah Budaya Joglo Abang dengan harapan kelak bisa menjadi refrensi budaya lokal serta bisa menjadi tempat pengkajian budaya Jawa.

Bertepatan malam minggu Paguyuban Beksa Langen Budaya dari komunitas Gunungkelir, Donorejo, Kaligesing, Purworejo ikut memeriahkan perhelatan pekan seni budaya dengan menggelar pentas Seni Tari Jathilan di plataran Joglo Abang Yogyakarta.

RBJAPaguyuban Beksa Langen Budaya malam itu menghibur dengan dua babak tarian yang diawali oleh tarian pendekar laki-laki yang dalam pementasan dikemas menggunakan pakaian warok, tarian ini diperankan oleh laki laki dan memiliki gerak gerik yang gagah perkasa layaknya pendekar sakti.

Tarian ini penggambaran para pemuda yang belajar beladiri maka hampir semua gerakan adalah adopsi dari gerakan seni beladiri.

Pagelaran babak selanjutnya adalah tampilnya para penari putri yang memerankan delapan prajurit berkuda yang gemulai beratraksi dengan kuda kepang sebagai penggambaran.

Langen Budaya GunungkelirDalam pertunjukan kemudian diselipkan trance para penari yang mengekplorasi diri dengan menari diluar gerakan inti dimana hal ini banyak kalangan menyebutnya sebagai kerasukan.

Kerasukan atau trance dalam pagelaran jathilan memang melekat meskipun banyak kalangan fanatik menyebutnya musrik dan atau sebutan lain.

Pementasan yang menggunakan sesaji atau sering disebut sajen juga sering dihubungkan dengan pemujaan pada sesuatu yang tidak jelas.

“Pak itu para penarinya tadi kerasukan jin atau setan” tanya penonton yang mengenakan tanda identitas BN2013.

BN2013 istimewa“Dalam Paguyuban Beksa Langen Budaya tidak ada penari yang kerasukan atau bahkan paguyuban tidak mengenal hal tersebut jika tadi anda lihat seperti tak sadar menari itu hanya sugesti dari pawang yang membangkitkan alam bawah sadarnya”jawab Ngudiyo salah satu sesepuh yang hadir dalam pementasan.

“mas bagaimana rasanya saat menari kok sepertinya anda kerasukan” tanya salah satu penonton sambil mengarahkan kamera kepada salah satu penari usai selesai.

“saya bukan tidak sadar kok, saya menari kemudian di sugesti oleh mas totok yang sebagai pawang kemudian saya seperti itu, ya seperti dihipnotis lah” jawab waluyo alias ipod memberi penjelasan pada penanya.

SesajiSebenarnya pementasan seni jathilan yang dilakukan dan dikemas oleh paguyuban beksa langen budaya gunungkelir ini hanya sebuah pesan dimana dapat diterjemahkan dalam banyak hal tergantung sudut pandang para penonton dalam mengupas yang tersurat dalam tontonan yang dimaksud sebagai tuntunan.

Dalam sudut event organiser semisal pada pagelaran ini terpampang bagaimana mengelola dan mengemas penonton tata penari serta properti yang semua membuat manja mata penonton.

Dalam sudut kepemimpinan dapat digambarkan bagaimana pawang yang tetap berpamitan pada sesepuh (orang tua) sebelum memulai pagelaran dilanjutkan memanjatkan doa bermedia dupa dan sesaji yang memiliki makna etika horisontal, toto sugiharto_003vertikal kemudian mengendalikan semua penari dan penabuh gamelan hingga usai.

Meski sebagai tontonan masih jauh dari kesempurnaan namun paguyuban Beksa Langen Budaya tetap terus menata dan mengekplorasi kegiatan kreatif berkumpul di gunungkelir dengan harapan kedepan semakin banyak mendapat refrensi dan apresiasi.

Tontonan hanya sebuah tuntunan dan budaya bukan sebuah keimanan namun hanya bentuk etika kepada sang Pencipta dan Alam semesta.

BN 2013 yogyakartaapa tujuan gunungkelir membuat paguyuban beksa langen budaya tak muluk muluk hanya sebatas membuat karya dan mewarnai anak komunitas gunungkelir dengan sebuah kegiatan ekploitas kreatif dan penyaluran kenakalan remaja.

Selamat kepada Rumah Budaya Joglo Abang semoga terwujud semua visi misinya, dan semoga bisa merunut kembali budaya verbal menjadi digital ditengah ramai antrinya pemuda indonesia mengimport budaya barat.

mari berwawasan global namun jangan lupa akar budaya lokal, meski anda seorang intelektual yakini bahwa budaya lokal akan menambah etika anda dalam kehidupan dan bukan menjadikan anda orang kuno atau ketinggalan jaman.

salam buat semua teman blogger yang tak sempat berjabat satu persatu malam itu……

Foto karya : CreatifSemut

Tags: , , , , , , , , , ,

15 Responses to “Partisipasi Gunungkelir pada RBJA dan BN2013”

  1. soal pelestari jaranan, memang gunung kelir juaranya.. asik tenan isa ndilok acara keren di joglo abang 🙂

  2. suwun kang jidat sory tak tututi ke angkringan sampean dkk wis mulih

  3. TOP nan pokmen!

  4. ra teko prof wingi hahaha

  5. Aku baru pertama kali liat pas kemarin itu. Paling suka penari cewek yg terakhir 🙂

    yg barisannya juga paling terakhir itu

  6. baru tahu, jebul kang totok ki sekti tenan! jan-jannya pingin lihat kang totok nyokot beling, eh, kok gak kesampaian…

  7. haha lain waktu, kang.. etapi aku ojo tok ko nyakot beling lho ya 😀

  8. Pokmen top. Ho oh, tenin. Ning nek nonton jathilan langsung gah cedhak-cedhak, ndhak disawur kembang kangmas sing jalitheng kae. 😀

    Salam persahablogan,
    @adiwkf

  9. kontribusinya hanya bisa dinilai dengan hati

  10. Meskipun kita tidak bersua, insya Allah sudah merasakan euforianya…

  11. Perasaan aku kok rak tau teko yo ngene an…

  12. beruntung pula sempat menjadi salah satu penontonya, meski tidak sampai tuntas-tas!

  13. Kapan maning iki acara di adakne, pengen lihat nih 🙁

  14. Selamat kepada Rumah Budaya Joglo Abang semoga terwujud..Amiin

  15. lestarikan budaya indonesia,, ini hanya ada diindonesia salam persahabatan

    Regard
    wisata bromo

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>