Sejalan umur makin bertambah tentu banyak sekali garam dan asam yang termakan dalam kehidupan begitupula dalam sebuah pertemanan banyak sekali yang menghiasi dalam sejarah kehidupan kita.

Sebagai pekerja kontruksi banyak sekali pernak pernik karakter manusia ditemui dalam setiap harinya, ada yang ramah, ada yang ketus, ada yang jaim pokoknya lengkap terpapar dalah keseharian kental ditemui.

Begitu juga di luar pekerjaan kita juga menemui banyak teman yang kadang membawa kita pada lingkungan yang asik namun tidak sedikit pula kita ketemu teman yang harus membuat kita tersenyum kecut.

“mas apakah pakaian casual itu terpakai saat kerja” sebuah pertanyaan teman terlontar membuka obrolan saat buka puasa bersama.

Pertanyaan tentang pakaian tersebut kemudian menjadi bahasan meluas hingga tarawih tiba dan dilanjutkan usai tarawih hingga menjelang sahur tiba.

Dalam pandangan jawa ada istilah “ajining saliro soko busono” (system nilai diri diawali dari pakaian) penghargaan terhadap seseorang terkadang dinilai dari pakaian yang dikenakan, dan pakaian terkadang menjadi tolok ukur untuk nilai penghargaan kepada siapa yang mengenakan pakaian tersebut.

Kemeja berdasi berbalut jas rapi terkadang membuat orang memiliki penghargaan yang luar biasa ketika bertemu dengan orang banyak, begitu kira kira gambaran mengenai pakaian dalam pandangan umum.

Tapi dalam pandangan berbeda saya tidak terlalu memperhatikan pakaian yang membalut seseorang, mungkin karena saya pribadi mengalami pengalaman yang berbeda secara umum dalam menghormati seseorang tidak mempertimbangkan pakaian yang dikenakan, meskipun cara pandang saya tidak bisa menjadi acuan banyak orang.

Tataran kemapanan seseorang juga tak bisa dinilai dengan klimisnya penampilan pakaiannya, tak juga dinilai dari gemerlap pernak pernik yang dikenakan.

Saya tak sedang menyalahkan siapapun yang berpakaian rapi dan gemerlap namun alangkah ruginya ketika pakaian dikenakan pada tempat dan saat yang tidak pas, dalam satu contoh ketika saya sedang berkumpul dalam acara buka puasa bersama lalu kehadiran seorang teman yang lengkap mengenakan pakaian gemerlap, sontak hampir separuh teman yang berkumpul berdecak melihat kedatangannya, selain heran ternyata yang ada dalam benak teman-teman hampir sama ketika berbisik menyatakan pandangan yang negative setelah sigemerlap berlalu.

Sebut saja penghamba gengsi saya biasa menjuluki pada orang orang yang selalu ingin tampil wah atau gemerlap diantara yang lainnya, penghamba gensi ini biasanya tak mau ketinggalan dalam berbagai mode baik model pakaian atau asesories yang lain seperti hendphone, laptop, bahkan masalah kendaraan.

Penghamba gensi biasanya tak ingin mati gaya dengan berbagai cara biasanya melakukan kegiatan pamer apapun yang dimiliki dihadapan teman teman yang lain.

Lantas apakah menguntungkan prilaku yang seperti itu?

Kita harus ingat bahwa ada pepatah “masih ada langit di atas langit” kata-kata tersebut hanyalah pengingat bagi kita bahwa sehebat-hebatnya seseorang masih ada yang lebih hebat lagi, maka mestinya kita tak perlu memamerkan kepemilikan kita secara berlebihan.

Rasa simpati dalam pergaulan terkadang justru terganggu ketika salah seorang dari teman kita adalah penghamba gensi, rasa akrab kemudian musnah terganggu oleh kesombongan yang ditampakan oleh penghamba gengsi.

Penghamba gensi dalam dunia bloggerpun banyak berseliweran dan menghinggapi sebagian blogger, dapat kita lihat saat  jumpa rekan atau saat ada kegiatan tertentu terkadang penghamba gensi terbiasa memetakan diri dan mengotakan diri dari keleluasaan.

Merasa dirinya selebritas terkadang membuat penghamba gengsi juga enggan mendatangi pertemuan pertemuan kecil karena dirasa tak menaikan popularitasnya.

Penghamba gensi biasanya dalam berteman juga sangat memilah dan memilih tidak sembarangan mau duduk bersama berkumpul hanya pada orang orang yang menurutnya berlebih harta atau berpangkat sipenghamba gensi mau berteman.

Penghamba gensi tidak sadar bahwa setiap kita memiliki keterbatasan dan tak pernah tahu bahwa ada saat dan tempat dimana uang serta selendang kesombongan tak berlaku.

Kita ambil contoh ketika ada seorang boss dari Sumatra yang sudah dipastikan hartanya berlimpah suatu hari mendapat kecelakaan dirampok di daerah bogor, kemudian tak ada uang tersisa dalam dompet, dalam keadaan seperti itu meskipun dia memiliki banyak uang dalam tabungan tapi hari itu tak menolongnya, terbukti dia tak mampu melakukan apa apalagi kecuali pertolongan sahabat sahabatnya, beruntunglah si Boss tersebut sangat baik dalam pertemanan meski hari itu dia tak lagi memiliki uang namun tetap bisa makan dan pulang ke Sumatra berkat bantuan teman teman blogger Bogor.

Saya tak bisa membayangkan apabila kejadian tersebut terjadi pada penghamba gensi mungkin jika kita melihat kecelakaan menimpa penghamba gensi bisa jadi rasa simpati kita musnah dan dipastikan sipenghamba gengsi tak terselamatkan.

Tempatkan sesuatu pada tempat yang semestinya setiap orang boleh memelihara gensi untuk banyak kepentingan namun jangan jadikan diri kita penghamba gensi yang tak mampu memanagement gengsi.

Hargailah persahabatan dengan tak membedakan secara materi tidak memetakan diri, tampil rendah hati dan bersahaja tak akan membuat diri kita direndahkan.

Lamun Siro Banter Ojo Nglancangi

Lamun Siro Pinter Ojo Minteri

Lamun Siro Landep Ojo Natoni

Gemerlap serta semua perangkat gelar dan kekayaan mu tak berarti saat dirimu terbaring sakit dengan nafas satu persatu namun kehadiran sahabat serta doa seorang teman lebih berarti

Tags: , , , , , , , ,

7 Responses to “Penghamba Gengsi”

  1. Tulisan ini menunjukkan kerendahhatianmu, Mas Tok!
    Meski kamu bisa saja berlaku seperti mereka, tapi penyadaranmu terhadap hidup membuatmu kian dewasa!

    Sedap!

  2. ya mas Donny jebul aku soyo tua hahaha, dari teman jugalah saya banyak belajar tentang kehidupan mas

  3. Sayangnya para penghamba gengsi tak sadar kalau di banyak tempat, sikapnya tak disukai dan justru merendahkan dirinya sendiri.

    Apalagi sekarang main gengsi -terutama di kalangan blogger- udah nggak muksin! Hehehe sudah lebih banyak blogger yg sadar akan prinsip setara-sesama-serasa.

    Jabat erat!

  4. tepat mas dan saya juga mengambil pelajaran darimu dan kawan kawan untuk merasa setarayang lebih asik dan nyaman

  5. Tulisan kontemplasi yang asyik dari seorang pekerja konstruksi yang juga blogger.

    Salam persahablogan,
    @wkf2010

  6. Baca sampai habis,
    Tulisane soyo menginspirasi om..!
    🙂

  7. paling ga suka kalau berteman dengan orang yang gengsinya tinggi.
    kadang bikin senewen…
    Salam kenal, terima kasih atas kunjungannya di blog sederhana saya mas.

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>