Sejenak setelah membaca tulisan seorang sahabat yang bernama Donny Verdian membuat saya menjadi kembali termenung pada sepotong masa lalu yang sudah terlewati.

Donny Verdian secara fisik saya belum pernah bertatap atau berjabat namun orang tersebut sudah akrab bersahabat di dunia maya dari tahun 2008 silam, meski saya dan DV sebutan akrabnya di ranah maya, belum bertemu namun saya sangat mengenali tulisan dia yang banyak menginspirasi serta mempengaruhi cara berfikir saya.

Donny Verdian juga saya kenali dari teman-teman dia sewaktu di jogja, makanya meski saya belum bertemu secara fisik saya bisa sedikit mengenali prilakunya kepada sahabat-sahabatnya, dan dari teman-temannya pula aku tahu ada tato di beberapa sudut tubuhnya.

Cara pandang terhadap agama kemudian cara membaca situasi memperlihatkan bahwa orang tersebut matang dan mendewasa dalam berfikir karena mungkin memiliki latar belakang pengalaman yang lengkap dari hitam sampai putih.

DV orang yang tidak segan mengatakan apapun pendapatnya dan lugas seperti saya ingat pernah ditegur masalah paragraf tulisan saya dan membuat saya menjadi belajar.

Saya tak sedang akan mereview siapa Donny Verdian namun saya sedang menikmati tulisan dia yang bertajuk Rosonegaran dan Kenapa kita Memilih Jalan ini dimana DV bercerita tentang masalalu dan kesempatan yang diberikan Tuhan pada saat ini, terselip rasa syukur dan keyakinan terhadap sang Pencipta bahwa Tuhan selalu memilihkan jalan Terbaik dalam hidup kita.

Sedikit terkupas masa lalu DV yang pernah juga saya alami saat di bangku pendidikan menjadi mahasiswa yang pas-pasan, saya harus memasak sendiri untuk berhemat kemudian saya juga harus bekerja menjadi pengantar koran sebelum berangkat kuliah dan menjadi penjaga toko buku pada sore menjelang malam hari.

Masa pendidikan saya tak sebagus kawan-kawan yang lain yang bisa menggunakan sepeda motor ke kampus dengan uang jajan yang berlimpah.

Saya yang terlahir sebagai anak pertama dari tiga saudara dari orang tua yang berprofesi sebagai guru SD, saya terdidik menjadi domestic, dan sejak kecil ditanamkan rasa tanggung jawab terhadap keperluan pribadi saya sendiri.

Menjadi asisten Lab, kemudian saya sering membantu membuatkan benda kerja praktek tehnik atau membuatkan gambar tehnik adalah kebiasaan saya untuk mendapatkan uang lebih semasa belajar.

Jika DV dihadapkan pada hotel mewah dan penghuninya serta kepalanya dipenuhi oleh mimpi yang berderet saya pun sama memiliki dendam dari pembentukan masa lalu.

Terlintas saat saya ingin memiliki sepeda motor dan saya utarakan kepada Almarhum bapak saya dan harus puas ketika mendapat jawaban seperti ini

β€œnek kowe arep numpak motor nyuwun karo bapak, yo tak tumbaske ananging rasah kuliah sebab duwite dienggo tumbas motor, kowe malah dadi tukang ojek wae trus entuk duwit rasah sekolah duwur duwur”

(kalau kamu ingin sepeda motor meminta pada bapak, ya akan saya belikan tapi kamu tidak usah kuliah karena uangnya dipakai untuk beli motor, kamu jadi tukang ojek saja malahan mendapat uang dan tak perlu sekolah tinggi-tinggi) sedih sekali waktu itu harus memupus keinginan memiliki sepeda motor sewaktu kuliah.

Tetapi almarhum bapak saya memberiku semangat β€œnek kowe pinter sekolah kowe iso tumbas opo wae sing mbok senengi tur lakyo luwih bangga nek iso tumbas dewe ora dipundutke karo wong tuwa”

(jika kamu pandai maka kamu bisa membeli apasaja yang kamu senangi dan lebih bangga karena bisa membeli sendiri bukan karena dibelikan oleh orang tua)

Dendam pada masa lalu itu akhirnya mencetak saya agar bermimpi dan menyatakan semua mimpi yang ada berjejal dalam pikiran saya.

Sepotong demi sepotong kejadian masa lalu terlintas dan alhamdulilah saya harus bersyukur karena memiliki dan menyatakan sebagian mimpi dari masalalu, Tuhan selalu memberikan kesempatan terbaik untuk kita ambil dan digunakan.

Belajar dari masalalu saya tak mau berhambur keperluan atau sekedar membeli gengsi saya berusaha tetap membeli sesuatu berdasar pada kebutuhan, meski memiliki kendaraan roda dua dan roda empat lebih dari satu namun bukan berarti berlebihan karena dendam masa lalu, semua terbeli karena berdasar sebuah keperluan dan kepentingan.

Setelah menikmati berkah Tuhan dengan mensyukuri apa yang dimiliki saat ini membuat saya mengerti tentang arti dendam masa lalu dan saya mensiasati sebagai semangat dalam hidup.

Dan penggalan masa silam tersebut yang selalu menghalau menjauhkan saya dari rasa sombong yang berlebihan, saya berusaha tampil seminimal mungkin dan seperlunya jika masih bisa ditempuh dan efektif dengan motor maka saya tak menggunakan mobil, dan selama saya masih mampu menyetir sendiri saya tak menggunakan sopir, begitu juga dalam pekerjaan selama saya mampu saya akan lebih senang berbaur dengan pekerja saya untuk menikmati pekerjaan-pekerjaan di lapangan.

Sepenggal dendam karena keterbatasan masa lalu membuat saya belajar tentang banyak hal yang mengantongi keberanian untuk menyatakan mimpi yang sebagian akan saya tuliskan dalam Judul Keluar dari Zona Aman.

Permenungan Donny Verdian sebagian membuat saya harus bersyukur dan menyadari betapa pentingnya untuk selalu bercermin pada masa lalu.

Sepenggal tulisan Donny Verdian pagi ini membuat saya menangis dalam rasa syukur, terima kasih sahabatku kamu telah membantu mengingatkan ku agar bersyukur dan tetap berdiri sebagai manusia biasa saja.

Tags: , , , , ,

9 Responses to “Sepenggal Dendam Donny Verdian”

  1. Sepenggal dendam karena keterbatasan masa lalu membuat saya belajar tentang banyak hal yang mengantongi keberanian untuk menyatakan mimpi yang sebagian akan saya tuliskan…

    saya tersentuk dengan kalimat itu mas, banyak pelajaran yang aku dapat dari tulisan njenengan ini. aku yang masih belum banyak pengalaman hidup, kudu berguru kaliyan tiyang2 sepuh πŸ™‚

  2. saya termasuk orang yang pendiam, suka menyendiri dan kurang show on, jadi banyak orang yang mengatakan “kowe ki iso opo, pinteran adimu kae lo” dan dibanding2kan kadang juga menggres hati juga. tapi sakit hati itu selalu jadi motivasi untuk menunjukan pada mereka bahwa saya berguna dibidang yang sy sukai. kelas 3 SMA sy ngenal bisnis online, mulai bisa cari uang saku sendiri dan sampai kuliah-pun jarang minta ke orang tua. itu suatu kebanggaan yang luar biasa indahnya. biarpun sy lahir dr keluarga yang insyallah kecukupan tapi jika mampu mandiri itu memang sangat nggreget..!
    dendam masa lalu memang sangat memotivasi kita untuk bisa meraih semuanya!!

  3. Terima kasih pelajaran hidupnya, mas.

    @utamiutar

  4. Alhamdulillah. Dendam menjadi daya hidup

  5. Dienggo dan dipundutke adalah dua kata penting dalam wejangan orangtua Mas. Terima kasih atas kisah inspiratifnya. πŸ˜‰

    Salam persahablogan,
    @wkf201

  6. Halah, Mas Tok ini agak berlebihan dalam menilaiku, Mas.. nganti gedhe ndasku ki hehehe..

    Tapi matur sembah nuwun, sebagai orang yang sama-sama belajar pada Maha Guru Kehidupan, mari kita saling mendoakan saja semoga kita semakin jadi dewasa dan bijak, Mas.

    Suatu waktu nanti, kita pasti ketemu!

  7. aku juga matur nuwun mas

  8. koq aku jadi speechless mocone mas πŸ™‚

    minal aidzin wal faidzin
    mohon maaf lahir dan batin

  9. Asslamualaikum…

    Mas DV koyo AGUNG HERCULES. Ganteng, macho, mangane opo mas ???? salam kenal cah thorjo.

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>