Toto RahardjoPagi itu langit Gunung Kelir tidak sempurna terlihat agak redup dan kadang juga mendung tebal menyelimuti cakrawala puncak Gunung Kelir, Tidak ada aktivitas yang berarti yang saya lakukan pagi itu hanya sekedar merisik kabar kawan kawan dan bertegur sapa melalui facebook.

Pagi yang mendung beranjak siang dan mulailah matahari berani mencengkeram dengan kehangatanya menyapa setiap tubuh yang terjemur oleh cahayanya di sisi bukit Gunung Kelir.

Jarum jam dinding menunjukan arah jam 11 siang ketika sebuah mobil Avanza warna hitam menyeruak masuk dan berhenti di halaman rumah saya.

Sang pengemudi lantas tersenyum dan tidak asing di mata saya walau belum pernah ketemu saya langsung menebak “ ini dia mbak Ririn Habsari “ mbak Ririn Habsari saya kenali beliau dari kepiawaian beliau mengambil foto foto tentang Kambing Etawa kepedulian beliau terhadap  Desa Donorejo, beliau datang bersama dua teman , sesaat kemudian kami bertegur sapa lantas beramah tamah dan saling mengenali diri masing masing .

Mereka bertiga datang ke Gunungkelir dengan energi yang sangat berlebih untuk mendaki menyusuri perbukitan hingga mencapai puncak Gunung Kelir .

Mas Toto Rahardjo adalah seseorang yang sebenarnya bagi saya juga tidak asing wajah namanya ( itu yang saya ucapkan saat  berkenalan dan bertukar nomor telephon ) walau saya hanya sekedar sering melihat  sekilas beliau di beberapa acara yang di gelar oleh Kyai Kanjeng ataupun acara Kenduri Cinta bersama Cak Nun ( Emha Ianun Najib ) .

Kesederhanaan mas Toto Rahardjo dalam kedatanganya ke Gunung Kelir ternyata membuka salah satu angan angan kami dan kawan kawan dalam pengelolaan budidaya Kambing Etawa yang berlandaskan keinginan beberapa anak muda di lingkungan kami untuk melepaskan gensi menukarnya dengan Kemandirian dan prinsip kemerdekaan.

Akhirnya silaturahmi itu membuka gerbang cita cita anak anak muda desa kami yang sedang menggeluti Kambing Etawa untuk mewujudkan kemandirian serta kemakmuran dalam keterbatasan.

Latar belakang Desa Donorejo serta sumberdaya manusia di daerah kami memang masih bergantung pada ketidakberdayaan karena letak geografis kami yang tentu saja tidak menguntungkan untuk bertukar informasi, yang tentu saja hal ini menjadikan kami  tertinggal dari tempat lain.

Keinginan kami untuk merdeka di sini sebenarnya juga sangat sederhana, keinginan teman teman di daerah kami sebenarnya juga hanya sekedar ingin melepaskan ketergantungan dan mendapatkan kemandirian.

Kami bersyukur akhirnya mereka bertiga bersedia membantu kami dalam mewujudkan keinginan kami untuk menikmati HUJAN EMAS DI NEGERI SENDIRI. yang juga menjadi presepsi kepedulian mbak Ririn Habsari Dkk dalam PERDIKAN.

Pertemuan saya dengan  Mas Toto Rahardjo mudah mudahan bisa menwujudkan Desa kami menjadi Toto Sugiharto dan Toto Rahardjo yang berarti memiliki tatanan kekayaan serta kesejahteraan.

Toto Sugiharto adalah nama asli Genthokelir yang jikala di artikan adalah Tatanan Kekayaan Harta  ( menata kekayaan ) yang bertemu konsep dengan mas Toto Rahardjo yang memiliki arti nama Tatanan Kesejahteraan .

Mungkin ini hanya otak atik Gathuk namun kebetulan saya memiliki presepsi yang sama dengan mas Toto Rahardjo utnuk kembali ke Desa melepaskan gengsi Status serta mengikisi kerancuan terhadap anak muda yang merantau tanpa Arah dan menjadi asing di negerinya sendiri.

Di tengah perselingkuhan Politik yang mengombang ambingkan Negeri ini kami memang tidak ambil pusing dengan siapa yang akan memimpin Negeri Indonesia sebab yang ada dalam benak kami adalah “berganti siapapun Presiden serta Konsepnya bagi kami tidak berarti apa apa” .

Letak Geografis kami menciptakan ketidakadilan pemerintah dalam membangun fasilitas untuk daerah kami seperti yang pernah saya tuliskan bahwa ciri anda memasuki daerah kami adalah ketika tidak nyaman dalam berkendara karena jalanan yang rusak,  hal itu salah satu yang nampak sekali bagi kami merupakan keterbatasan yang bergantung pada Pemerintah .

Diskriminasi terhadap orang orang seperti kami memang kadang menyedihkan dan banyak yang menyudutkan bagi kami, cara pandang terhadap keberadaan kami yang ada di daerah seringkali menimbulkan riak yang menggemuruh bagi kami.

Bahkan saya yang bertempat tinggal di atas Gunung dan memiliki Weblogg juga di anggap sebagai BLOGGER DAERAH yang kadang hanya di nilai sekedar mencari sensasi dan pengakuan diri.

Existensi kami di daerah hanya sebagai bahan exploitasi untuk kepentingan beberapa gelintir orang yang mencari Popularitas tanpa menyisihkan kepedulianya ,tanpa melihat utuh terhadap kami.

Hal itu tak asing dan sangat sering kami dapati ketika mereka hanya sepintas melihat atau memandang, terkadang juga mereka menganggap kami sebagai orang yang tak terpelajar dan hanya tahu Gunung serta hutan. ( walau yang mencerca kami ternyata masih kalah jauh pendidikan dan Wacananya dari kami yang lahir dan hidup di atas Gunung Kelir )

Kami anak yang terlahir di Daerah dan memiliki keinginan untuk madiri dengan memerdekakan diri tanpa harus di perbudak untuk merantau ke JAKARTA ataupun ke Malaysia yang hanya sekedar menjadi KULI apapun sebutan nya .

Perinsip yang lahir di atas ke inginan ini tentu karena prosesi kehidupan dan bercermin terhadap Orang yang besar dan merasa Besar di Jakarta namun tak pernah memiliki Arti sama sekali di Daerahnya , juga karena Purworejo yang di sebut sebagai kota Pensiunan.

Yang memiliki Orang orang yang berpotensi namun tidak mempengaruhi kemajuan daerahnya.

Hal yang terpapar itulah yang mengakibatkan kami masih tetap miskin fasilitas, dan jauh dari banyak hal yang di anggap sejahtera.atau wujud Desa Gemah ripah Loh Jinawi .toto titi tentrem kerto raharjo.

Kedatangan Mas Toto Rahardjo Dkk seperti mecuci pikiran kembali dan memberikan motivasi pada beberapa cahaya pandangan kami yang meredup.

Terima Kasih tidak terkira dari kami terhadap Mbak Ririn Hapsari untuk kepeduliannya pada Desa Kami , besar Harapan atas keterbatasan ini mudah mudahan di respon positif serta memberikan timbal balik untuk kemajuan daerah kami.

Sekaligus saya juga mengucapkan Terima kasih yang tak terkira untuk teman teman Blogger yang pernah datang menyambangi kami yang berada di DAERAH.

foto di ambil dari koleksi Mbak Ririn

Tags: , , , , , , , , , , , ,

29 Responses to “Toto Rahardjo vs Toto Sugiharto”

  1. Sopo kwi mas?
    Aku ra kenal.
    Tak moco dishek yo?

  2. Yui, aku skrg ngarti nama aseli kang Gentho.

    Memang, kesederhanaan ituh indah sangad.
    T E R U S K A N !

  3. Manteps lah… Semoga apa yang menjadi cita-cita sampeyan untuk menjadikan Wilayah yang sering disebut daerah, pelosok atau apalah itu untuk bisa menjadi Toto Sugiharto dan Toto Rahardjo bisa terwujud kang.. 🙂

  4. oooh ini ceritanya toh sampai Ririn ketemu Mas Tok 😀

    eh mas aku juga blogger daerah loh, ngga diakui di perkumpulan blogger manapun. Blogger Daerah Tokyo ngga ada tuh perkumpulannya. Mau masuk perkumpulan Purworejo juga ngga bisa tuh…hiks.

    Kalo mas Tok Kuli, ya aku pembantu deh alias TKI.

    EM

  5. kok malah mirip iklan wastafel ya hahaha… 😆

  6. kenalan sik ahhh
    *salaman*

  7. selamat berjuang memerdekakan pemuda pemuda indonesia dari krisis kantong kering hehehehe

  8. Postingan yg menggelegar hehehehee.
    Aku yo blogger ndeso,Mas.. Klaten! :))

  9. jadi pengen menikmati hujan emas di daerah sendiri, dari pada merantau ke jakarta. tapi dasar mental kuli nggak berani ngambil resiko (doh)

  10. tambah terkenal aja Gunung Kelir, kapan ya saya bisa kesana 🙂

  11. wah hujan emas…. enak nu kang.. 😆

    maju terus blogger daerah!!! emang ada yang ngaku blogger pusat?

  12. Saya juga bloger daerah, tp bingung daerah mana. Di Klaten cuma sebulan sekali, di Semarang seminggu sekali, di Pemalang cm nunut sebentar. Jan marai bingung

  13. toto sugiharto maupun toto rahardjo, keduanya sama-sama bekerja demi kesejahteraan masyarakat sekitarnya. baik sekali prinsip “hujan emas di negeri sendiri” itu, mas tok. kita memang harus merasa berbangga dan mampu menggali potensi kekayaan daerah demi kemajuan, tidak semata mengharapkan bekerja pada orang lain dan mengabaikan apa yang sebenarnya dapat kita manfaatkan dengan bijaksana dari apa yang dikandung oleh daerah kita sendiri.

  14. Mugo2 kerjasamane langgeng…
    Wargane ngguya-ngguyu, Etawane mesam-mesem

  15. kalau dua toto bertemu sudah menghasilkan komitmen yang besar begitu, bagaimana kalau ada 3, 4 sampai 10 toto yang kumpul ya? wuih, bisa luar biasa itu… 😀

    saya salut dengan prinsip mas tho yang bertekad membangun kampung sendiri dan menanggalkan segala gengsi. toh, itu bukanlah sesuatu yang hina, malah justru disitulah letak kemuliaan…

    maju terus mas…
    kapan ya aku bisa ke gunung kelir?

  16. Pengin ke gunung kelir 🙁

  17. emang situ daerahnya mana? kok pernah kesana saia?

  18. kapan yah bisa ke sono..!

  19. wow… dua nama yang sama. alangkah dahsyatnya jika dua nama ini bersatu utk berjuang menggapai harapan dan impian bersama. selamat berjuang mas totok2! beavo!

  20. lahhh… mas toto raharjo kan bos ku dulu. salam yahh…

  21. Dua orang yang bekerja sama dalam kebaikan, semoga Allah memberkahi…

  22. masih ada togh mas.. yang suka mengkotak-kotak ada blogger ndeso… blogger kota…? (doh) semoga di bulan ramadhan ini mereka diberi pencerahan dan kesadaran akan kemuliaan harkat dan martabat manusia bukan karena dimana mereka tinggal….

  23. benar2 hebat!! kalau aku di riau susah banget ngumpul2 blogger
    gak ada yang kenal juga, kalau di Pekanbaru mungkin nah ini terpencil di Duri 😀

    tetap semangat ya mas 😉

  24. bener begitu bener kata mas Toto…
    saya yang juga lahir dari GUNUNG kadang merasakan sesuatu yang lain ketika saya harus terbang di atas kota yang penuh berbagi informasi…
    saya dukung perjuangannya Mas….jadikan GunungKelir sebagai Bacground dunia…ehm SEMANGAT

  25. ning soing jelas, dadi wong ndeso kuwi ngangeni, yen iso malah netepi manggon, ning ra kilangan gawe.

    sepakat karo semangat sampean, kang! Jakarta terlalu serakah!

Trackbacks/Pingbacks

  1. Toto Rahardjo « Kambing Etawa
  2. Boleh Ini « Dunia Hitam dan Putih
  3. Horeg « Saktipaijo’s Weblog
  4. Berlebaran di Gunungkelir.com

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>